Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Subsidi Selisih Bunga Terkendala Pengetatan Perbankan

Sudah ada beberapa konsumen dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah memilih unit dan sudah siap membayar cicilan, tetapi kemudian tidak bisa diteruskan karena ditolah bank.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 28 Mei 2020  |  15:40 WIB
Klaster perumahan - Ilustrasi/Bisnis
Klaster perumahan - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Stimulus dari pemerintah untuk sektor properti, subsidi selisih bunga sudah mulai bergulir dan direalisasikan sejak 1 Mei lalu. Namun, realisasinya diakui masih terhambat oleh adanya pengetatan persyaratan pemberian kredit dari bank.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan bahwa saat ini sudah ada konsumen yang mulai mengajukan lewat skema subsidi selisih bunga (SSB), tetapi banyak yang pencairannya terkendala karena bank melakukan pengetatan pemberian kredit.

“Setelah stimulus itu berjalan, bank mengetatkan syaratnya untuk bisa mengajukan KPR [kredit pemilikan rumah], jadinya tidak semua permintaan [SSB] bisa tembus terealisasi,” katanya kepada Bisnis, Kamis (28/5/2020).

Menurutnya, hal itu normal melihat perbankan juga perlu menjaga agar non-performing loan (NPL)-nya tidak naik. Belum lagi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah memberi stimulus berupa restrukturisasi kredit yang bisa memberi pengaruh para kinerja perbankan.

“Makanya, OJK perlu lebih tegas lagi soal aturan-aturan dan persyaratan untuk mengajukan kredit ini. Supaya masyarakat juga tidak kesulitan, perlu ada relaksasi juga,” katanya.

Totok menyebutkan, sudah ada beberapa konsumen dari masyarakat berpenghasilan rendah yang sudah memilih unit dan sudah siap membayar cicilan, tetapi kemudian tidak bisa diteruskan karena ditolah bank, sedangkan konsumen tersebut tidak ingin pemesanan rumahnya dibatalkan.

Salah satu alasan konsumen tak bisa menembus mendapat KPR bersubsidi adalah penilaian seputar lapangan pekerjaan atau jumlah penghasilan yang dinilai riskan atau kurang memadai di tengah pandemi seperti sekarang ini.

Adapun, bisa konsumen mencicil ke pengembang secara langsung agar tak perlu ke bank, menurutnya, berisiko tinggi dan akan membuat proses dan jangka waktu pembayaran cicilan jadi lebih rumit dan lebih lama.

“Jadi, harapannya OJK bisa melihat kondisi ini dan memberi relaksasi, kemudian persyaratan yang ada bisa lebih ditegaskan agar tidak menyulitkan para konsumen yang sudah telanjur memilih unit,” kata Totok.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perumahan subsidi selisih angsuran-SSA
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top