Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kementerian BUMN Minta Pelaku Industri Baja Tingkatkan Daya Saing

Saat ini industri baja memang tengah mengalami tekanan berat akibat pandemi Covid-19. Dalam kondisi tersebut industri baja harus meningkatkan efisiensi dan meningkatkan produktivitasnya agar setara dengan industri baja global
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 20 Mei 2020  |  19:40 WIB
Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.
Pekerja pabrik menyusun bagian menara saluran tegangan ekstra tinggi (SUTT) yang baru saja di olah dari baja canai panas (HCR) di pabrik PT Waskita Karya Infrastruktur. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi bagian menara SUTET 48.000 ton per tahun.

Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN Budi Gunadi Sadikin meminta pelaku industri baja untuk meningkatkan efisiensi dan mencari peluang di tengah krisis yang ditimbulkan Covid-19.

Dia menjelaskan bahwa saat ini industri baja memang tengah mengalami tekanan berat akibat pandemi Covid-19. Menurutnya, dalam kondisi tersebut industri baja harus meningkatkan efisiensi dan meningkatkan produktivitasnya agar setara dengan pemain global

“Negara kita besar, harusnya demand-nya cukup besar. Akibatnya, demand itu harus bisa disuplai oleh baja lokal, tapi memang PR-nya adalah produktivitas dan efektivitas harus ditingkatkan agar mendekati benchmark industri baja global,” katanya, Rabu (20/5/2020).

Dia mengatakan bahwa Covid-19 telah memberi dampak signifikan terhadap sistem rantai pasok global. Menurutnya, perubahan ini bisa jadi tidak bersifat sementara dan menjadi tren yang semakin besar ke depannya.

Dia menyatakan saat ini banyak negara yang kian menyadari pentingnya memiliki rantai pasok sendiri di dalam negeri. Artinya, produksi suatu industri harus sudah mulai mengurangi ketergantungan bahan baku impor.

Menurutnya, dengan tren seperti itu, maka permintaan baja akan meningkat karena lokal akan lebih berfokus menyerap sumber daya lokal. Pasalnya, selama ini memang persoalan industri baja adalah kalah saing dengan produk impor yang membanjiri pasar.

“Selain menciptakan ketidakpastian yang tidak enak buat pebisnis di Indonesia, tapi juga di sisi lain menciptakan peluang untuk pebisnis yang bisa memanfaatkan peluang dengan jeli ke depan,” ujarnya.

Dia mencontohkan kebutuhan baja untuk produksi jarum suntik di Indonesia bisa jadi peluang. Ke depan, menurutnya dengan meningkatnya kebutuhan akibat pandemi, kebutuhan jarum suntik akan meningkat dan harus dimanfaatkan oleh para pelaku industri baja.

Menurutnya, belajar dari pandemi Covid-19 yang ditimbulkan dari virus SARS-CoV 2 yang datang berselang 16 tahun setelah SARS-CoV 1, tak menutup kemungkinan akan ada jilid-jilid selanjutnya dari virus ini. Dengan demikian, para pelaku industri, termasuk baja diharapkan dapat terus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk seperti itu.

“Tidak ada yang bisa jamin SARS-CoV 3, 4, atau 5 tidak akan datang. Tugas kita bersama adaah untuk memastikan kita siap kalau ini terjadi,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN industri baja baja
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top