Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perusahaan Unggas Mulai Serap Ayam Peternak Mandiri

PT Japfa Comfeed mulai melakukan penyerapan terhadap ayam broiler, guna mengatasi kelebihan pasokan di tingkat peternak mandiri.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 24 April 2020  |  11:31 WIB
Peternak menimbang ayam broiler jenis pedaging yang dijual murah seharga Rp8.000 per kilogram di sentra peternakan ayam broiler di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Destyan Sujarwoko
Peternak menimbang ayam broiler jenis pedaging yang dijual murah seharga Rp8.000 per kilogram di sentra peternakan ayam broiler di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan penyerapan ayam peternak mandiri oleh perusahaan swasta guna menangani kelebihan pasokan komditas itu, mulai terlaksana.

Salah satu perusahaan yang melakukan pembelian dalam rangka penanggulangan pasokan ayam broiler siap potong yang berlebih ini adalah PT Japfa Comfeed.

"Kemarin Rabu [22/4/2020], PT Japfa Comfeed sudah melakukan pembelian livebird di farm broiler peternak mandiri anggota GOPAN [Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional] di Dramaga Tanjakan Bogor,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewa I Ketut Diarmita dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (24/4/2020).

Dia menjelaskan bahwa PT Japfa Comfeed melakukan pembelian dengan harga Rp15.000 per kilogram. Harga ini masih berada di bawah acuan namun lebih tinggi dari harga pasaran livebird yang saat ini berkisar di level Rp10.000 sampai Rp14.000 per kilogram.

Dalam penyerapan tahap awal, perusahaan tersebut melakukan penyerapan sebanyak 1.920 ekor dan akan diidistribusikan ke rumah potong hewan unggas (RPHU) Parung yang berlokasi di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

"Pembelian ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan tersebut untuk membeli livebird sebanyak 700.000 ekor," tambah Ketut.

Terpisah, berdasarkan laporan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, salah satu integrator lainnya yakni PT Chareon Pokphand Indonesia (CPI) Indonesia tercatat juga telah melakukan pembelian dari peternak mandiri. Penyerapan dilakukan di Desa Ngabean Boja, Kendal.

Penyerapan dalam tahap mencapai jumlah 4.000 ekor. PT CPI melakukan pembelian dengan harga Rp15.000 per kilogram sesuai dengan kesepakatan dengan perkumpulan peternak.

"Ayam yang dibeli di Kendal ini merupakan bagian dari komitmen 1 juta ekor ayam yang akan dibeli oleh PT CPI di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur," ujar Ketut terkait informasi ini.

Pembelian oleh PT CPI ditargetkan sebanyak 20.000 ekor per hari yang selanjutnya akan dipotong di RPHU yang berada di Salatiga. Karkas yang dihasilkan akan diolah menjadi produk olahan ayam seperti nugget dan sosis.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono menjelaskan bahwa tujuan kerja sama untuk menyerap ayam broiler dari peternak mandiri ini dilakukan untuk mengurangi pasokan ayam ke pasar sehingga supply demand menjadi seimbang.

"Kita harapkan nantinya harga akan meningkat, dan para peternak bisa menikmati hasil usahanya," tuturnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah menandatangani kerja sama dengan sejumlah pemangku kepentingan dalam bisnis peternakan ayam broiler. Sampai saat ini, tercatat terdapat 22 perusahaan yang berkomitmen menyerap livebird peternak mandiri dengan jumlah 4,12 juta ekor di Pulau Jawa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementan peternak ayam harga ayam
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top