Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fed Minutes: Bank Sentral Ulur Waktu dengan Pemangkasan Suku Bunga

Pejabat Federal Reserve telah melihat kebutuhan untuk mulai bekerja pada program-program baru guna melindungi ekonomi dari pukulan akibat wabah virus corona (Covid-19) saat mengumumkan penurunan suku bunga darurat pada pertengahan Maret.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 09 April 2020  |  06:22 WIB
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Selasa (17/3/2020). Bloomberg - Andrew Harrer
Gedung bank central Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, Selasa (17/3/2020). Bloomberg - Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA – Pejabat Federal Reserve telah melihat kebutuhan untuk mulai bekerja pada program-program baru guna melindungi ekonomi dari pukulan akibat wabah virus corona (Covid-19) saat mengumumkan penurunan suku bunga darurat pada pertengahan Maret.

Dalam risalah pertemuan Federal Reserve yang dirilis pada Rabu (8/4/2020), pejabat bank sentral melihat risiko penurunan sebagai jaminan tanggapan yang 'kuat'.

Pertemuan darurat dilakukan melalui konferensi video pada 15 Maret tersebut memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan dan memulai kembali program pembelian obligasi besar-besaran untuk memompa stimulus ke dalam sistem perbankan.

Tetapi berita acara pertemuan darurat tersebut, yang menggantikan pertemuan yang seharusnya diadakan akhir pekan ini, menunjukkan bahwa mereka telah mengantisipasi kebutuhan untuk menggelar program-program baru.

“Peserta umumnya mencatat bahwa langkah-langkah lain untuk mendukung aliran kredit ke rumah tangga dan bisnis, termasuk yang bergantung pada pasal 13 (3) Undang-Undang Federal Reserve, mungkin diperlukan di tengah ketidakpastian yang berkembang pesat dan akan lebih baik bagi Federal Reserve untuk mengembangkan dan tetap siap untuk menerapkan langkah-langkah tersebut," tulis risalah tersebut, seperti dikutip Bloomberg.

Jutaan warga AS telah kehilangan pekerjaan mereka dalam beberapa pekan terakhir karena pemerintah negara bagian dan lokal telah memerintahkan bisnis untuk menghentikan aktivitas guna membendung penyebaran virus corona (Covid-19).

Risalah tersebut menunjukkan perbedaan pendapat antara sejumlah pejabat mengenai berapa lama dan seberapa parah kontraksi ekonomi akan berlangsung, meskipun yang lainnya menekankan bahwa guncangan ekonomi sementara ini sudah cukup untuk membawa sistem perbankan AS menuju krisis.

Karenanya, ada pemahaman yang jelas bahwa krisis terus memberikan tekanan lebih lanjut pada inflasi, yang terus berada di bawah target The Fed sebesar 2 persen selama delapan tahun terakhir.

Para pejabat mencatat bahwa penguatan dolar AS, lemahnya permintaan, dan penurunan harga minyak mentah menjadi faktor-faktor yang kemungkinan akan menekan inflasi pada periode mendatang.

Dalam telekonferensi setelah pengumuman suku bunga, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan kepada wartawan bahwa ia berharap virus pada akhirnya akan mereda dan ekonomi AS akan melanjutkan aktivitas normal.

Namun, Powell menambahkan bahwa The Fed akan terus menggunakan alat kebijakan untuk mendukung aliran kredit dan menopang permintaan dengan kebijakan moneter, serta melakukan segala upaya untuk memastikan pemulihan berjalan dengan cepat.

Sejak itu, bank sentral AS telah mulai meluncurkan sejumlah program pinjaman darurat yang pertama kali dikerahkan setelah krisis keuangan 2008.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

federal reserve fomc
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top