Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belum Dilonggarkan, Eksportir Produk Hutan Tetap Patuhi SVLK

Kehadiran SVLK dinilai mereduksi stigma kegiatan pembalakan liar yang melekat pada kegiatan pengelolaan hutan di Indonesia.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 08 April 2020  |  20:43 WIB
Perajin mebel mengantarkan mebel kayu menggunakan sepeda motor di kawasan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, Senin (6/3). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap industri mebel atau kerajinan kayu dipermudah dalam kepengurusan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC), meskipun telah ada sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk mempermudah ekspor produknya. - Antara
Perajin mebel mengantarkan mebel kayu menggunakan sepeda motor di kawasan Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, Senin (6/3). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berharap industri mebel atau kerajinan kayu dipermudah dalam kepengurusan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC), meskipun telah ada sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) untuk mempermudah ekspor produknya. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha perhutanan Tanah Air menyatakan komitmen untuk tetap memenuhi syarat sistem verifikasi dan legalitas kayu (SVLK) bagi produk yang akan diekspor.

Komitmen itu tetap ada meskipun sempat terdapat wacana relaksasi larangan terbatas (lartas) pada komoditas tersebut. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengemukakan bahwa kehadiran SVLK telah mereduksi stigma kegiatan pembalakan liar yang melekat pada kegiatan pengelolaan hutan di Indonesia.

Dalam lima tahun terakhir, ekspor kayu dengan SVLK pun tercatat mengalami peningkatan yang menjadi dampak positif bagi dunia usaha.

"Kami berpandangan bahwa SVLK seyogyanya tetap diberlakukan untuk menyertai ekspor produk hasil hutan. SVLK harus terintegrasi dari hulu ke hilir untuk memastikan ketelusuran dari bahan baku, pengolahan di industri dan pemasaran," kata Purwadi kepada Bisnis, Rabu (8/4/2020).

Adapun untuk insentif selama wabah corona atau Covid-19, Purwadi menyatakan pihaknya mengharapkan penerapan SVLK untuk industri kecil kehutanan dapat disederhanakan, terutama terkait syarat perizinan usaha dan bantuan untuk pelaksanaan sertifikasi SVLK.

Adapun sepanjang 2020, Purwadi tak memungkiri jika terdapat penurunan eskpor kayu. Dia menyatakan hal ini dipengaruhi oleh kondisi negara tujuan utama ekspor yang terdampak Covid-19 cukup parah.

"Masuk triwulan II ini diperkirakan ekspor kayu olahan akan turun, karena lima negara utama tujuan ekspor kayu olahan Indonesia, yakni China, Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa dan Korea Selatan, saat ini terkena pandemi COVID-19 cukup parah," lanjutnya.

Nilai ekspor kayu olahan Indonesia sepanjang 2019 sendiri tercatat mencapai nilai US$11,64 miliar menurut data APHI. Nilai tersebut cenderung turun dibandingkan capaian pada 2018 yang menyentuh US$12,13 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor kayu kayu svlk
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top