Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pandemi COVID-19 Dinilai Jadi Biang Penurunan Kapasitas Produksi

Wabah COVID-19 dinilai menjadi faktor utama anjloknya purchasing manager's index (PMI) Indonesia pada akhir kuartal I/2020. Adapun, berbagai pihak belum dapat mensimulasikan proyeksi pertumbuhan sektor manufaktur pada tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 01 April 2020  |  20:30 WIB
Buruh menyelesaikan pembuatan masker di PT Jayamas Medica Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (18/3/2020). Karena kekurangan bahan baku, dalam sehari pabrik tersebut hanya memproduksi masker sebanyak 300.000 lembar dari biasanya sebelum wabah virus COVID-19 bisa mencapai 1 juta lembar masker. - ANTARA FOTO/Syaiful Arif
Buruh menyelesaikan pembuatan masker di PT Jayamas Medica Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (18/3/2020). Karena kekurangan bahan baku, dalam sehari pabrik tersebut hanya memproduksi masker sebanyak 300.000 lembar dari biasanya sebelum wabah virus COVID-19 bisa mencapai 1 juta lembar masker. - ANTARA FOTO/Syaiful Arif

Bisnis.com, JAKARTA - Wabah COVID-19 dinilai menjadi faktor utama anjloknya purchasing manager's index (PMI) Indonesia pada akhir kuartal I/2020. Adapun, berbagai pihak belum dapat mensimulasikan proyeksi pertumbuhan sektor manufaktur pada tahun ini.

Kementerian Perindustrian penurunan tajam PMI pada akhir kuartal I/2020 diperngaruhi oleh banyaknya daerah yang terjangkit COVID-19. Alhasil, penurunan utilitas pabrikan di berbagai sektor manufaktur tidak dapat dihindari.

"Beberapa industri mengalami penurunan kapasitas [produksi] hampir 50 persen, kecuali industri-industri alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Kemenperin tetap mendorong industri seperti biasanya dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar dari wabah COVID-19," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita kepada Bisnis, Rabu (1/4/2020).

Agus berujar pihaknya akan mengusahakan pemberian berbagai stimulus fiskal dan non-fiskal. Menurutnya, hal tersebut merupakan antisipasi banyaknya negara yang melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif bagi pasar lokal maupun global.

Adapun, lanjutnya, stimulus yang dikeluarkan akan mempermudah arus bahan baku. Dasi sisi fiskal, Agus menyampaikan akan ada pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan.

"[Hal tersebut untuk] meringankan beban dunia usaha maupun karyawan dalam jangka waktu tertentu," ucapnya.

Seperti diketahui, PMI Indonesia pada Maret 2020 turun dari 51,9 pada Februari ke posisi 45,3 pada Maret. Hal itu pun menunjukkan penurunan terendah sejak April 2011.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinwa W. Kamdani menghimbau agar seluruh pabrikan menggunakan semua opsi untuk mempertahankan eksistensi dalam kondisi krisis seperti saat ini. Shinta meminta pada pabrikan yang masih memiliki permintaan untuk menggenjot kapasitas produksinya.

Adapun pabrikan yang pasarnya menyusut diminta tetap mempertahankan eksistensinya. Shinta menyarankan agar pabrikan tersebut melakukan restrukturisasi utang, memanfaatkan stimulus, renegosiasi kontrak dengan klien, menurunkan kapasitas produksi, atau mengalihkan produksi.

"Kalau demand sangat berkurang hingga mendekati 100 persen, opsi menutup perusahaan pun kami dukung asal dilakukan dengan cara yang bertanggungjawab dan tidak merugikan pihak lain," ujarnya kepada Bisnis.

Shinta menilai penekanan produksi pada pabrikan sangat tidak rasional pada kondisi saat ini. Pasalnya, pasar lokal maupun global sedang terganggu.

Di sisi lain, Shinta menyatakan belum dapat memproyeksi pertumbuhan sektor manufaktur pada akhir tahun ini. Menurutnya, proyeksi tersebut sangat tergantung pada pihak berwajib dalam mengontrol wabah COVID-19.

Shinta berpendapat waktu penyelesaian wabah COVID-19 akan berbanding lurus dengan pertumbuhan perekonomian nasional tahun ini. Menurutnya, jika COVID-19 dapat diselesaikan pada kuartal II/2020 dan tidak memiliki komplikasi, pertumbuhan ekonomi nasional hanya berada di kisaran 1-2 persen.

"[Jika] wabah tidak terkendali hingga kuartal III-Kuartal IV 2020 atau ada tambahan masalah sosial/politik, krisis ekonomi tidak akan terhindari sehingga pertumbuhan bisa terjun di bawah 0 persen tergantung dengan tingkat kekacauan," jelasnya.

Oleh karena itu, Shinta berujar penting bagi pemerintah untuk memfokuskan seluruh upaya pada pengendalian wabah secara efektif, efisien, cepat dan transparan. Menurutnya, hal tersebut dapat membuat pasar tetap stabil dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bisa dipelihara selama pengendalian wabah sehingga masalah-masalah baru bisa dihilangkan.

Selain itu, lanjutnya, berbagai stimulus ekonomi harus dilaksanakan dengan cepat dan tepat sasaran. Shinta menilai hal tersebut penting aga pabrikan tidak terlambat rebound ketika wabah mulai terkendali.

"Industri akan menghadapi masa yg lebih sulit untuk bertahan ketika “peak point” penyebaran wabah terjadi di April-Mei. Oleh karena itu, kami harapkan pemerintah memberikan perhatian agar beban biaya pelaku usaha, khususnya beban THR, tidak dipaksakan agar perusahaan memiliki ruang gerak finansial untuk bertahan selama krisis," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks manufaktur covid-19
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

Foto loadmore

BisnisRegional

To top