Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Kimia Dasar: Pemerintah Perlu Kaji Ulang Teknis Distribusi Barang

Ketua Umum Akida Michael Susanto Pardi mengaku setuju dengan pemberlakuan protokol penguncian daerah. Namun demikian, lanjutnya, restriksi pergerakan barang yang tinggi merupakan arahan yang kontraproduktif.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  19:20 WIB
Kendaraan logistik keluar dari Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/2/2020). Bisnis - Paulus Tandi Bone
Kendaraan logistik keluar dari Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/2/2020). Bisnis - Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Kimia Dasar Anorganik (Akida) telah menyurati regulator untuk mengkaji kembali aturan teknis pergerakan barang jika protokol penguncian wilayah dilakukan.

Ketua Umum Akida Michael Susanto Pardi mengaku setuju dengan pemberlakuan protokol penguncian daerah. Namun demikian, lanjutnya, restriksi pergerakan barang yang tinggi merupakan arahan yang kontraproduktif.

"Industri makanan perlu bahan baku dari kami, industri kimia dasar. Ini dampaknya beruntun [kalau restriksi arus barang terlalu tinggi]. Kami berharap pemerintah bisa menyelaraskan kebijakan. Tanpa industri kimia, industri yang produksi APD [alat pelindung diri], masker, dan lainnya juga akan berhenti," katanya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2020).

Michael mencatat setidaknya ada 21 sektor manufaktur yang membutuhkan produk kimia dasar anorganik di dalam negeri. Adapun, produk tersebut diproduksi oleh sekitar 25 unit industri.

Dari sisi bahan baku, Michael menyatakan sekitar 40-60 persen dari total kebutuhan bahan baku pabrikan kimia dasar masih bergantung pada impor. Menurutnya, ketersediaan bahan baku hanya dapat menunjang produksi hingga medio kuartal II/2020.

Saat ini, lanjutnya, pabrikan juga tertekan oleh pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun demikian, dampak pelemahan kurs tersebut tidak terlalu besar lantaran posisi harga bahan baku kimia dasar saat ini pada posisi yang rendah karena resesi global. 

Michael menyatakan produksi pada kuartal I/2020 telah susut sekitar 10 persen - 30 persen dari realisasi akhir 2019. Adapun, lanjutnya, penurunan produksi terbesar dialami oleh bahan baku industri komponen bangunan.

Michael mendata utilitas pabrikan kini hanya berjalan di rentan 50-70 persen. Menurutnya, restriksi arus barang yang tinggi dapat membuat utilitas pabrikan kimia dasar nasional menjadi 0 persen alias menghentikan produksi total.

"Kalau truk tidak bisa jalan, bagaimana kami produksi? Bahan baku tidak masuk ke pabrik kami. [Selain itu,] gudang ataupun storage tank kami terbatas, setelah penuh harus stop,"ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik industri petrokimia
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top