Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kejutan! China Tidak Pangkas Suku Bunga

Berbeda dengan bank sentral lain di seluruh dunia, China memutuskan tidak mengubah suku bunga pinjaman pada bulan Maret.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  11:29 WIB
Yi Gang, Gubernur Bank Sentral China (PBOC) - Reuters
Yi Gang, Gubernur Bank Sentral China (PBOC) - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Berbeda dengan bank sentral lain di seluruh dunia, China memutuskan tidak mengubah suku bunga pinjaman pada bulan Maret.

Bank Sentral China (People’s Bank of China/PBOC) menyatakan pada hari Jumat (20/3) bahwa suku bunga pinjaman (loan prime rate/LPR) tenor satu tahun tetap pada level 4,05 persen. Adapun LPR untuk tenor lima tahun juga tidak berubah pada 4,75 persen.

Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan bank sentral akan memangkas suku bunga sedikitnya 5 basis poin setelah menurunkan rasio persyaratan modal dan memompa likuiditas ke sistem keuangan bulan ini.

Kebijakan suku bunga pinjaman ini dibatasi oleh kurangnya kebijakan pemotongan suku bunga sejak Februari. Pekan ini, bank sentral juga memutuskan tidak mengubah suku bunga pinjaman jangka menengah (medium term lending facility/MLF) daan menyuntikkan sekitar US$14 miliar ke dalam sistem keuangan.

Analis di Minsheng Bank Wen Bin mengatakan sampai saat ini, gerak PBOC terbatas oleh inflasi yang tinggi.

“Pemotongan suku bunga deposito yang tepat dan tepat waktu akan secara nyata menekan LPR. Ketika inflasi turun dan bank-bank sentral dari negara-negara besar kembali ke kebijakan QE, ruang kebijakan untuk China telah melebar,” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Lesunya aktivitas ekonomi mendorong sedikitnya 12 bank untuk mulai memperkirakan kontraksi pada semester pertama tahun ini. Menurut survei Bloomberg, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan mencapai 3,4 persen tahun ini. Angka ini menjadi yang paling lambat sejak kontraksi pada tahun 1976.

LPR telah dianggap sebagai secara de facto sebagai suku bunga acuan China sejak reformasi tahun lalu. Suku bunga yang diputuskan oleh 18 bank dirilis pada tanggal 20 setiap bulan dan dilaporkan dalam bentuk spread atas suku bunga pinjaman jangka menengah bank sentral.

Marjin bank China telah tertekan oleh upaya pemerintah untuk memerangi dampak ekonomi dari wabah virus corona, termasuk penurunan suku bunga pinjaman kepada beberapa perusahaan. Hal ini membuat pinjaman semakin kurang menguntungkan.

Pada saat yang sama, suku bunga pinjaman juga mencerminkan sikap kebijakan PBOC karena dikaitkan dengan suku bunga pinjaman jangka menengah. Bank sentral China jauh lebih terkendali daripada bnank sentral global lainnya dalam beberapa hari terakhir. Lebih dari 30 bank sentral telah melonggarkan kebijakan dalam menanggapi krisis Covid-19.

"Mereka mungkin mencoba mengirim pesan bahwa China tidak perlu mengikuti arus pelonggaran moneter global," kata Stephen Chiu, analis valas dan suku bunga Bloomberg Intelligence.

"Namun demikian, pelonggaran lebih lanjut akan tetap dilakukan dalam bentuk pemotongan rasio pencadangan pada kuartal kedua,” lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan ekonomi china

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top