Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Efek Wabah Corona, Okupansi Hotel Jatim Anjlok, Tinggal 25 Persen

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur melaporkan tingkat okupansi hotel-hotel di Jatim mengalami penurunan dengan rerata hanya mampu mencapai 25 persen akibat dari isu wabah Corona.
Peni Widarti
Peni Widarti - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  16:11 WIB
Sejumlah pekerja melintas di lorong lobby Terminal 2 (T2) Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jatim, Senin (10 - 2). Terminal baru yang dibangun untuk mengurai kepadatan jumlah penumpang di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur, yang terus meningkat ini akan mulai dioperasikan pada 14 Februari 2014 mendatang.
Sejumlah pekerja melintas di lorong lobby Terminal 2 (T2) Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jatim, Senin (10 - 2). Terminal baru yang dibangun untuk mengurai kepadatan jumlah penumpang di Bandara Juanda Surabaya, Jawa Timur, yang terus meningkat ini akan mulai dioperasikan pada 14 Februari 2014 mendatang.

Bisnis.com, SURABAYA - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur melaporkan tingkat okupansi hotel-hotel di Jatim mengalami penurunan dengan rerata hanya mampu mencapai 25 persen akibat dari isu wabah Corona.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono mengatakan penurunan okupansi sudah terjadi sejak beberapa hari lalu, apalagi pemerintah telah mengimbau untuk membatasi bahkan menutup tempat-tempat wisata yang juga berkaitan dengan industri hotel.

"Pasti terdampak, ini sudah turun sekali, malah kurang dari 25%. Meskipun tidak semua daerah, karena juga ada yang okupansinya masih 35%, walau itu juga sudah di bawah normal yang biasanya di 60%," jelasnya, Kamis (19/3/2020).

Dia menjelaskan kota-kota yang tingkat okupansinya hanya 25% itu kebanyakan daerah wisata seperti Malang dan Batu. Menurutnya, penurunan okupansi terjadi lantaran adanya pembatalan berbagai event seminar atau studi banding.

"Kami tidak tahu kondisi ini akan berakhir sampai kapan, tergantung penanganan dari pemerintah dan masyarakat juga. Kalau virus semakin serius, bisa makin turun lagi okupansinya," ujarnya.

Dwi mengatakan jika kondisi penyebaran virus makin buruk, pengusaha hotel terpaksa melakukan efisiensi operasional. Misalnya seperti memberlakukan kerja shift pada karyawan, atau satu hari masuk, satu hari libur.

"Ini masih belum kami lakukan, tapi kita akan evaluasi bagaimana. Kalau bulan depan kondisi masih sama, maka sementara ada karyawan yang dirumahkan guna menekan biaya operasional," jelasnya.

Dwi berharap dalam 2 minggu saat anak-anak sekolah diliburkan dan upaya untuk bekerja dari rumah bagi sebagian orang bisa memutus mata rantai penyebaran virus corona.

"Kami juga berharap ini segera berakhir karena akan ada Ramadhan dan Lebaran yang seharusnya ada potensi peningkatan okupansi, minimal saat Ramadhan biasanya ramai kegiatan buka bersama di hotel," imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jawa Timur pada Januari 2020 mencapai 48,69% atau turun 14,08 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

TPK hotel bintang 2 sebesar 51,57% yang merupakan TPK tertinggi dibandingkan TPK hotel berbintang lainnya.

Rata-Rata Lama Menginap Tamu (RLMT) Asing pada hotel berbintang pada Januari 2020 mencapai 2,66 atau turun 0,67 poin dibandingkan Desember 2019 yang mencapai 3,33 hari. Untuk RLMT keseluruhan pada Januari 2020 sebesar 1,60 hari atau turun 0,06 poin jika dibandingkan dengan bulan Desember 2019 yang mencapai 1,66 hari.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona wisata jatim covid-19
Editor : Sutarno
0 Komentar

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top