Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mungkinkah Driver Ojol Beralih Fungsi Saat Lockdown?

Skema lockdown dinilai bisa memberikan dampak negatif bagi para pengemudi ojek daring. Namun, terdapat peluang dari sisi logistik yang dapat dimanfaatkan oleh mereka.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  23:02 WIB
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan Mayestik, Jakarta, Rabu (18/3 - 2020). Bisnis / Eusebio Chrysnamurti
Pengemudi ojek online menunggu penumpang di kawasan Mayestik, Jakarta, Rabu (18/3 - 2020). Bisnis / Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Wacana lockdown yang mengapung di publik dinilai dapat berdampak pada para pengemudi ojek online (ojol), termasuk perubahan jasa yang dibutuhkan konsumen.

Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno menjelaskan bahwa aplikator transportasi harus memikirkan dampak terhadap ojek online (ojol) bila skenario lockdown dijalankan.

Lockdown itu untuk semuanya, masyarakat di Jakarta itu masih banyak yang pendapatannya harian seperti ojol, otomatis selama lockdown dijalankan mereka harus ditanggung kehidupannya,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Rabu, (18/3/2020).

Adapun, bila skenario lockdown yang dipilih oleh pemerintah, salah satu pergeseran yang akan terjadi adalah peran dari fungsi ojek daring sebagai penyedia layanan transportasi manusia menjadi khusus melayani sektor logistik.

“Saya rasa peralihan fungsi ojol itu bisa.  Tapi aplikator seperti Gojek dan Grab nantinya harus terbuka akan data karena di sana dapat diukur kemampuan, berapa waku yang diberikan, logistik apa yang dapat disalurkan kalau datanya ada dan valid, peralihan itu bisa dilakukan,” terangnya.

Pasalnya, apabila tidak ada ketersediaan dan keterbutkaan data dari aplikator, dia menilai para pengemudi ojek tidak akan mendapatkan pengawasan dan pelatihan untuk beralih ke logistik.

“Ini mereka ini tidak ada yang mengawasi, persoalannya di sana. Apakah platform mau untuk memberikan pelatihan, dan sebagainya. Contohnya taksi bluebird itu sudah ada panduan untuk menjaga kebersihannya,” terangnya.

Dia mengatakan kunci pergeseran fungsi dan layanan jasa dari ojek daring adalah keterbukaan data dari aplikator.

Adapun sebelumnya, oengemudi ojek online (ojol) menolak wacana opsi karantina wilayah DKI Jakarta sebagai antisipasi penyebaran virus corona (Covid-19). Bahkan mereka akan meminta insentif bantuan tunai jika hal tersebut dilakukan.

Gabungan Transportasi Roda Dua (Garda) Indonesia menolak jika Indonesia melakukan karantina wilayah atau lockdown. Pasalnya, akan menimbulkan dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan negara lain.

Presidium Garda Igun Wicaksono menuturkan ojol banyak yang kendaraan sepeda motornya menggunakan fasilitas kredit kendaraan bermotor. Dengan demikian, opsi lockdown akan membuat mereka sulit memenuhi tanggung jawab kredit tersebut

"Banyak yang mencari nafkah di sektor informal antara lain jutaan driver ojol yang setiap hari penghasilannya didapatkan secara harian bergantung pada jumlah pengguna jasa," jelasnya kepada Bisnis.com, Rabu (18/3/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gojek Ojek Online transportasi online grab indonesia
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top