Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Virus Corona Jadi Momentum Peningkatan Daya Saing UKM

Virus corona berdampak terhadap pengurangan volume perdagangan dunia karena volume ekspor-impor yang tinggi adalah ke dan dari China.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 11 Maret 2020  |  21:11 WIB
Virus Corona Jadi Momentum Peningkatan Daya Saing UKM
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi pantai berbahan rotan di Tegal Wangi, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019). - ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) mengungkapkan dampak penyebaran virus corona harus dimanfaatkan momentum untuk pengembangan produk lokal, termasuk dari sektor UMKM untuk e-commerce.

Chairman SCI Setijadi mengatakan peristiwa dampak wabah virus corona (Covid-19) harus menjadi pelajaran bagi industri dalam negeri untuk tidak lagi menggantungkan pasokan bahan baku dari satu negara tertentu. Pelaku industri harus mengkaji global supply chain masing-masing sektor serta mengembangkan strategi multisourcing maupun risk management terkait dengan ketidakpastian global.

"Momentum ini juga harus dimanfaatkan untuk pengembangan produk dan komoditas domestik untuk mengurangi ketergantungan dari luar negeri. Pemerintah melalui kementerian teknis terkait harus memfasilitasi pengembangan produksi dan distribusi produk dan komoditas," jelasnya kepada Bisnis.com, Rabu (11/3/2020).

Dia mengatakan pengembangan produk dan komoditas itu harus secara end-to-end, sehingga untuk industri manufaktur harus dimulai dari industri dasar untuk memproduksi bahan baku.

Secara dampak terangnya, wabah corona berdampak terhadap pengurangan volume perdagangan dunia karena volume ekspor-impor yang tinggi ke dari China. Pasalnya, negara itu memegang peranan penting dalam global supply chain, sehingga berdampak terhadap ketidakpastian global.

"Dampak terhadap perekonomian Indonesia cukup tinggi karena 27 persen impor non migas dari China dan 16,7 persen ekspor Indonesia ke China. Secara umum, per Januari 2020 ekspor Indonesia turun sebesar 3,75 persen dan impor turun sebesar 4,78 persen," ujarnya.

Berdasarkan analisis SCI, volume impor terbesar Indonesia berupa barang modal dan bahan baku, sehingga permasalahan tersebut sangat berdampak terhadap kelangsungan produksi industri manufaktur. Selain bahan baku, penurunan impor dari China berupa produk makanan dan minuman, termasuk buah dan sayur.

Di sisi lain, dalam perkembangan e-commerce para pelanggan mengantisipasi penularan wabah virus corona antara lain dengan mengurangi pemesanan barang terutama dari China.

"Namun, pemesanan produk kesehatan meningkat terutama yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengantisipasi penularan, seperti masker, sarung tangan, obat-obatan, hand sanitizer, dan vitamin," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top