Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Manufaktur Asia Goyah di Tengah Wabah Virus Corona

Aktivitas manufaktur di Asia jatuh pada bulan Januari 2020, menunjukkan bahwa perjanjian perdagangan AS-China gagal memacu sentimen untuk industri yang saat ini bersiap untuk gangguan rantai pasokan serta permintaan dari wabah virus corona.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  11:40 WIB
Warga menggunakan masker di Manila, Filipina, (31/1/2020). Warga berebut peralatan medis seperti masker dan alcohol setela pemerintah Filipina mengkonfirmasi kasus virus corona menyebar disana. Reuters - Eloisa Lopez
Warga menggunakan masker di Manila, Filipina, (31/1/2020). Warga berebut peralatan medis seperti masker dan alcohol setela pemerintah Filipina mengkonfirmasi kasus virus corona menyebar disana. Reuters - Eloisa Lopez

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas manufaktur di Asia jatuh pada bulan Januari 2020, menunjukkan bahwa perjanjian perdagangan AS-China gagal memacu sentimen untuk industri yang saat ini bersiap untuk gangguan rantai pasokan serta permintaan dari wabah virus corona.

Berdasarkan data IHS Market yang dirilis Senin (3/2/2020), indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) sektor manufaktur Korea Selatan, yang dipandang sebagai barometer utama permintaan global, turun menjadi 49,8 pada bulan Januari dari level 50,1 pada Desember.

PMI Malaysia juga merosot ke 48,8 dari 50, sementara Thailand juga kembali ke wilayah kontraksi. Vietnam, yang diuntungkan dari ketegangan perdagangan karena rantai pasokan bergeser ke negara tersebut, mencatat penurunan PMI 50,6 dari 50,8, data dari IHS Markit menunjukkan Senin.

Sementara itu, Indeks manufaktur China dari Caixin Media dan PMI IHS Markit turun menjadi 51,1 dari 51,5 pada bulan sebelumnya, menggarisbawahi bagaimana sektor manufaktur negara itu berjuang bahkan sebelum negara itu tutup untuk liburan Tahun Baru Imlek dan wabah virus corona memburuk.

Sektor manufaktur Taiwan terlihat lebih baik dibandingkan negara Asia lainnya, yang mencatat kenaikan PMI menjadi 51,8 pada Januari dari 50,8 bulan sebelumnya.

Analisis baru oleh Bloomberg Economics menunjukkan bahwa PMI Asia diperkirakan terus melemah karena virus corona memiliki dampak yang kuat, meskipun singkat di kawasan tersebut. Ekonomi terbuka yang didorong oleh ekspor termasuk Korea Selatan dan Singapura akan berada di antara yang paling terpukul oleh wabah tersebut.

"Meskipun jika bahwa virus dapat dibendung pada kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal tersebut diperkirakan berada 1,4 poin persentase di bawah batas bawah," tulis ekonom Bloomberg Economics, Chang Shu, dalam sebuah analisis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona pmi manufaktur
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top