Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Regulasi Rumit Sebabkan Investasi Mebel Turun

Pelaku industri mebel dan kerajinan menyebutkan penyebab anjloknya serapan investasi pada industri kayu pada tahun lalu disebabkan oleh rumitnya regulasi di dalam negeri.
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi rotan untuk acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, di sentra industri rotan Tangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/11)./ANTARA-Maulana Surya
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi rotan untuk acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, di sentra industri rotan Tangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/11)./ANTARA-Maulana Surya

Bisnis.com, JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan (HIMKI) menyatakan anjloknya serapan investasi pada industri kayu pada tahun lalu disebabkan oleh rumitnya regulasi di dalam negeri. Asosiasi menilai omnibus law dapat membantu meningkatkan serapan investasi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat penanaman modal dalam negeri (PMDN) industri kayu naik tipis menjadi Rp1,58 triliun pada 2019 dari Rp1,53 triliun pada tahun sebelumnya. Adapun, penanaman modal asing (PMA) anjlok 65,57 persen dari US$276 juta pada 2018 menjadi US$95 juta.

"Regulasi dan aturan kita belum bisa mengungguli Vietnam yang sangat simpel dan mudah. Kita harus belajar terus dan memperbaiki [regulasi],"  kata Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur kepada Bisnis.com, Kamis (30/1/2020).

Sobur berujar omnibus law berpotensi memberi ruang masuknya investasi asing yang lebih akomodatif, khususnya investor China, ke industri furnitur. Namun demikian, Sobur menilai penyusunan omnibus law akan memberikan perubahan yang signifikan.

Sebelumnya, Sobur menargetkan industri furnitur lokal dapar mengakselerasi performa ekspor furnitur ke Amerika Serikat. Sobur menargetkan nilai ekspor furnitur ke Negeri Paman Sam bisa naik 71,4 persen -114,28 persen menjadi US$1.2 miliar - US$1,5 miliar pada 2025.

Tahun lalu, ekspor furnitur ke Amerika Serikat berkontribusi sekitar 38,8 persen atau US$700 juta dari total nilai ekspor furnitur nasional. Selain itu, Sobur juga menargetkan pertumbuhan ekspor ke China hingga 2025.

"Dalam 5 taun kami ingin ambil kesempatan baik ini dengan akselarasi [ekspor] ke China bisa dapat tambahan per tahun 10 persen - 12 persen. Itu sudah baik," katanya.

Di sisi lain, Sobur menilai adanya peluang di balik merebaknya wabah virus Corona Wuhan. Menurutnya, wabah tersebut membuka pintu ekspor ke Amerika Serikat dan negara-negara benua Eropa lebih lebar lagi.  "[Peluang] menjadi sangat terbuka [dan] berpeluang lebih besar untuk penetrasi."


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper