Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2020

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia akan menguat pada 2020, meskipun dengan laju sedikit lebih lemah dari perkiraan sebelumnya di tengah ancaman terkait perdagangan dan ketegangan di Timur Tengah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  08:21 WIB
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2020
Peserta saat mengikuti salah satu acara dalam rangkaian Pertemuan IMF World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia akan menguat pada 2020, meskipun dengan laju sedikit lebih lemah dari perkiraan sebelumnya di tengah ancaman terkait perdagangan dan ketegangan di Timur Tengah.

Pada Senin (20/1/2020), IMF menyatakan pertumbuhan global akan berakselerasi menjadi 3,3 persen tahun ini dari 2,9 persen pada 2019.

Meski berakselerasi, pertama kalinya dalam tiga tahun, pertumbuhan tersebut sedikit lebih rendah dari pertumbuhan sebesar 3,4 persen untuk 2020 yang diproyeksikan pada Oktober 2019.

Laporan itu, bagaimana pun, berisikan harapan bahwa risiko terhadap outcome negatif tampak lebih kecil. Pandangan tersebut akan dibahas dalam pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pekan ini. Banyak ekonom juga berpandangan pertumbuhan global akan mulai stabil.

Bagi IMF, yang memperkirakan pertumbuhan global akan berakselerasi menjadi 3,4 persen pada 2021, hal-hal positif yang dimaksud mencakup tanda-tanda bahwa kemunduran dalam manufaktur dan perdagangan global telah mencapai titik terbawahnya (bottom out).

Angin segar untuk ekonomi global juga datang dari perkembangan pembicaraan perdagangan AS-China dan kebijakan moneter yang akomodatif.

IMF meningkatkan prospek pertumbuhan China dengan latar belakang perjanjian dagang fase satu dengan AS yang ditandatangani pada 15 Januari.

Pertumbuhan ekonomi China diprediksi naik 0,2 poin persentase menjadi 6 persen tahun ini. Kesepakatan itu kemungkinan akan mengurangi pelemahan dalam siklus jangka pendek, meskipun perbedaan lebih luas yang belum tuntas atas hubungan ekonomi AS-China "akan terus membebani aktivitas”.

Namun estimasi pertumbuhan ekonomi untuk Amerika Serikat sedikit diturunkan sebesar 0,1 poin persentase menjadi 2 persen pada 2020.

Kepala Ekonom IMF Gita Gopinath mengatakan bahwa hal utama bagi AS dan China adalah untuk mendorong dan membuat kesepakatan yang lebih tahan lama.

“Jika ketegangan [AS-China] kembali, maka akan merusak segala pemulihan dalam ketidakpastian kebijakan yang kita lihat akhir-akhir ini. Ada sedikit 'wait and watch',” papar Gopinath kepada Bloomberg Television.

Di sisi lain, ada pula dampak yang jelas dari kesepakatan perdagangan AS-China. Menurut IMF, kesepakatan AS-China mengurangi efek negatif kumulatif pada output dari konflik kedua negara hingga 2020 menjadi 0,5 persen dari 0,8 persen.

Meski risiko telah mereda, IMF memperingatkan bahwa masih banyak yang perlu dikhawatirkan. Progres pembicaraan perdagangan yang maju mundur, dampak ketegangan AS-Iran terhadap pasokan minyak, dan bencana terkait cuaca adalah beberapa di antaranya.

"Risiko pertumbuhan global di bawah standar yang berlarut-larut tetap nyata meskipun ada tanda-tanda tentatif momentum stabilisasi," tutur IMF.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imf ekonomi global
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top