Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Asosiasi Mengklaim Karet Bisa Jadi Bahan Bakar Nabati

Setelah sebagai campuran aspal, Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menemukan bahwa karet alam bisa diubah menjadi bahan bakar nabati (BBN) seperti kelapa sawit. Kali ini, asosiasi menjanjikan tingkat serapan yang lebih tinggi dari penggunaan karet sebagai campuran aspal.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  02:50 WIB
Asosiasi Mengklaim Karet Bisa Jadi Bahan Bakar Nabati
Karet Alam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah sebagai campuran aspal, Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) menemukan bahwa karet alam bisa diubah menjadi bahan bakar nabati (BBN) seperti kelapa sawit. Kali ini, asosiasi menjanjikan tingkat serapan yang lebih tinggi dari penggunaan karet sebagai campuran aspal.

Sebelumnya, asosiasi menghitung penggunaan karet sebagai campuran aspal dan penerbitan standar nasional indonesia (SNI) wajib ban vulkanisir dapat meningkatkan serapan karet maksimal menjadi 25 persen pada akhir 2019. Angka tersebut naik 50,76 persen dari serapan tahun 2018 sebanyak 625.820 ton menjadi 943.500 ton. 

"1,2 juta ton dapat itu [penggunaan karet alam untuk BBN], katakanlah di B50 atau B60. Crumb rubber itu bisa dibikin jadi minyak. Bijih karet itu untuk aditifnya," kata Ketua Umum Dekarindo Azis Pane, Senin (20/1/2020). 

Azis berujar 43 persen dari minyak bijih karet dapat digunakan sebagai bensin nabati, 7 persen sebagai bioavtur, 15 persen-20 persen sebagai bio-LPG, dan selebihnya merupakan gas-gas metan, karbon dioksida, dan uap air. 

Azis berasumsi skala keekonomian konversi karet alam degan perengkahan katalitik dari bijih karet saat ini masih belum mencukupi. Pasalnya, harga bahan bakar minyak saat ini pada umumnya berada di level US$1/liter, sedangkan harga karet alam per Januari 2020 US$1,4/Kg.

Azis mengatakan penemuan asosiasi tersebut belum melalui penelitian. Oleh karena itu, ujarnya, asosiasi akan meminta Kementerian Riset dan Teknologi untuk meneliti kemungkinan tersebut lebih jauh.

"Jangan hanya kelapa sawit dong, karet juga kasih kesempatan," ucapnya.

Adapun, Dekarindo meramalkan serapan karet pada akhir 2019 naik tipis sekitar 3,86 persen menjadi sekitar 650.000 ton. Jika karet alam berhasil diubah menjadi BBN, serapan karet pada akhri tahun ini maksimal dapat menjadi sekitar 52,11 persen atau 1,85 juta ton. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karet Biodiesel
Editor : Akhirul Anwar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top