Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Utilitas Masih Rendah, Kinerja Industri Semen Tertekan

Utilitas rata-rata pabrikan semen pada tahun lalu ditutup di level 68,73%.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 17 Januari 2020  |  15:26 WIB
Aktivitas pekerja Semen Indonesia di Packing Plant Banjarmasin, Kalimantan Selatan. - Bisnis/Peni Widarti
Aktivitas pekerja Semen Indonesia di Packing Plant Banjarmasin, Kalimantan Selatan. - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, JAKARTA – Rendahnya utilitas masih menjadi problem bagi sebagian pabrikan semen nasional. Bahkan tekanan tersebut diramalkan akan terus berlanjut hingga 2021.

Utilitas rata-rata pabrikan semen pada tahun lalu ditutup di level 68,73%. Angka tersebut naik 553 basis poin (bps) dari tahun sebelumnya di posisi 63,2%.

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) menyatakan pabrikan dengan utilitas di bawah 60% merugi dengan ekuilibrium harga semen saat ini di sekitar level Rp50.000. Adapun, enam dari tujuh pabrikan pada 2018 memiliki utilitas di bawah 60% dengan pabrikan terendah memiliki utilitas 27,8%.

Ketua Umum ASI Widodo Santoso mengatakan performa industri semen pada tahun lalu memprihatinkan. Pabrikan berharap produksi semen pada 2019 dapat tumbuh 5%, tetapi realisasinya hanya 1,3% menjadi 76,265 juta ton.

Widodo meramalkan konsumsi semen dalam negeri tahun ini hanya akan tumbuh 2%-3%, sedangkan serapan global naik 3%-4%. Dengan kata lain, total produksi pada akhir tahun ini hanya akan tumbuh menjadi sekitar 77,852 juta ton-78,61juta ton atau tumbuh 2%-3%.

Menurutnya, pabrikan akan terus berusaha menggenjot serapan semen di pasar global. Namun, pertumbuhan serapan ekspor terbilang minim jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang pabrikan semen yang berlebih hingga 33 juta ton.

Adapun, kelebihan kapasitas industri semen pada tahun ini akan bertambah menjadi 41 juta ton mengingat beroperasinya tiga pabrikan baru di pulau Jawa.

Widodo menilai efek pengoperasian pabrik tersebut baru akan terasa pada tahun depan lantaran ketiga pabrik tersebut baru akan beroperasi sekitar awal kuartal IV/2020.

"Karena operasinya masih percobaan. Jadi, operasinya tidak banyak, mungkin 2 juta--2,5 juta ton. Tapi, [tekanan pada industri semen nasional akan] makin berat," katanya kepada Bisnis, Kamis (16/1/2020).

Adapun, ketiga pabrikan semen anyar tersebut akan berada di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur yakni di Jember, Grobokan, dan Bayat. Ada dua pabrikan yang akan mulai beroperasi pada tahun ini di Jember dan Grobogan yakni PT Semen Imasco Asiatic Raya dan PT Semen Grobokan.

PT Semen Imasco Asiatic Raya menelan investasi senilai Rp5 triliun dan akan memiliki kapasitas terpasang sebesar 1,5 juta ton per tahun. Perusahaan patungan antara Hongshi Holding Group dan PT Semen IMASCO Asiatic Indonesia akan memanfaatkan 100 juta ton batu kapur sebagai bahan baku. 

Sementara itu, PT Semen Grobogan menelan investasi hingga US$300 juta dengan kapasitas terpasang 5 juta ton. Dengan kata lain, pabrikan semen di Bayat akan memiliki kapasitas terpasang sekitar 1,5 juta ton.

Berdasarkan target produksi semen ASI, utilitas pabrikan semen pada 2021 akan berada di sekitar posisi 66,25% atau lebih rendah 248 bps dari posisi saat ini.

Widodo mengatakan seharusnya pemerintah menangkap situasi industri semen saat ini. Menurutnya, pemerintah wajib melindungi investasi yang lebih dulu masuk ke dalam negeri lantaran terus menambah investasi tanpa melihat kondisi industri semen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri semen
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top