Proyek Kanal CBL untuk Angkut Kontainer, Asosiasi Usul Dibatalkan Saja

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Ilham Masita menuturkan proyek CBL belum memiliki kajian perhitungan bisa berdampak terhadap biaya logistik yang lebih efisien.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  08:30 WIB
Proyek Kanal CBL untuk Angkut Kontainer, Asosiasi Usul Dibatalkan Saja
Ilustrasi- Kanal Cikarang-Bekasi Laut (CBL) yang merupakan salah satu proyek strategis nasional. - Bisnis/industry.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Logistik Indonesia berpendapat proyek kanal sungai Cikarang-Bekasi-Laut (CBL) lebih baik tidak dilanjutkan karena alasan tidak efisien dan berbiaya mahal.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldi Ilham Masita menuturkan proyek CBL belum memiliki kajian perhitungan bisa berdampak terhadap biaya logistik yang lebih efisien.

"Lebih baik fokus pada proyek yang lebih bermanfaat bagi logistik, karena CBL tidak akan membuat biaya logistik lebih murah malah naik karena terlalu banyak perpindahan barang dari pabrik sampai pelabuhan," jelasnya kepada Bisnis.com, Senin (2/12/2019).

Selain itu, dia menilai biaya pemeliharaan jalur kanal yang dilalui akan sangat mahal karena tingginya endapan lumpur di sepanjang Sungai Kalimalang, Bekasi. Belum lagi banyak jembatan yang melintas perlu dibongkar agar dapat dilalui kapal.

"Proyek CBL dari awal dipaksakan, padahal tidak efisien, apalagi sudah ada Patimban sebagai alternatif selain Tanjung Priok," tuturnya.

Lebih lanjut, Zaldi menilai Pelabuhan Tanjung Priok akan ditinggalkan oleh pemilik barang dan pelaku logistik dan beralih ke Pelabuhan Patimbang, Jawa Barat.

Sebelumnya, konstruksi proyek Inland Waterways Cikarang-Bekasi-Laut atau jalur kanal sungai angkutan logistik dipastikan molor hingga 2021.

Padahal, proyek alternatif transportasi logistik melalui kanal sungai ini menjadi salah satu proyek strategis nasional yang ditargetkan konstruksi pada 2019 ini.

Direktur Prasarana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Nur Alam mengatakan, pihaknya sebagai penanggung jawab proyek kerja sama (PJTK) masih harus menyelesaikan beberapa kajian terlebih dahulu.

"Mulai dibangun kayaknya paling cepat 2021, karena kita menyelesaikan studinya dulu, beroperasi mungkin di 2022 bisa beroperasi," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tanjung priok, BPTJ-Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, Kanal CBL

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top