Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ada Evolusi Penggunaan Pesawat Komersial di Indonesia, Ini Buktinya

Anggota Ombudsman RI Alvin Lie mengatakan jumlah penumpang pesawat di Indonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun kendati pada awal 2019 sempat lesu.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 28 November 2019  |  16:40 WIB
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) memeriksa hidrolik pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 - 300ER. - Antara/Muhammad Iqbal
Petugas Garuda Indonesia Maintenance Facilities (GMF AeroAsia) memeriksa hidrolik pesawat Garuda Indonesia Boeing 777 - 300ER. - Antara/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Penggunaan jenis pesawat maskapai nasional dinilai bakal mengalami evolusi dari jenis berlorong tunggal menjadi berlorong ganda  atau yang sering disebut wide body.

Pemerhati penerbangan yang juga anggota Ombudsman RI Alvin Lie mengatakan jumlah penumpang pesawat di Indonesia akan terus meningkat dari tahun ke tahun kendati pada awal 2019 sempat lesu. Namun, dia menilai kecenderungan pertumbuhan akan terjadi karena kebutuhan mobilitas masyarakat. 

Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA) memperkirakan pada 2036 Indonesia jumlah penumpang pesawat terangkut sebanyak 250 juta pemakai jasa penerbangan per tahun dan menduduki posisi kelima dari 10 besar dunia pasar penumpang angkutan udara.

Sebaliknya, jumlah penumpang udara di seluruh dunia terus meningkat, melebihi 4,3 miliar perjalanan sepanjang 2018. Negara dengan kontribusi terbesar masih dipegang Amerika Serikat dengan 590 juta orang. Disusul China dengan 515 juta orang dan India sebanyak 116 juta orang.

"Guna mengantisipasi pertumbuhan jumlah penumpang ini, maskapai perlu menambah kapasitas. Cara yang digunakan saat ini adalah mengganti pesawat dengan jenis yang lebih besar daripada menambah dengan jenis yang sama," katanya kepada Bisnis.com, Kamis (28/11/2019).

Selama ini, Alvin menuturkan maskapai cenderung mengoperasikan pesawat narrow body seperti Boeing 737-800 atau Airbus 320. Kedua pesawat ini memiliki kapasitas jumlah pemumpang sekitar 160 atau 170 orang dalam sekali angkut.

Untuk kapasitas pesawat wide body berjenis Boeing 777 atau Airbus 330 bisa mencapai di atas 390 orang. Jumlah tersebut lebih banyak hingga dua kali lipat jenis narrow body dengan sekali angkut.

Hal tersebut, lanjutnya, menjadikan biaya operasional maskapai juga semakin ringan. Maskapai bisa mengangkut lebih dari 350 orang dengan hanya sekali penerbangan.

Di sisi lain, penggunaan pesawat wide body bisa mengurangi kepadatan pergerakan pesawat di bandara dan slot terbang. Terlebih, hingga saat ini mayoritas bandara nasional belum bisa menambah slot karena keterbatasan landas pacu.

Sebagai contoh, Bandara Soekarno-Hatta yang terbesar di Indonesia hanya mampu melayani 82 pergerakan pesawat per jam dengan dua runway. Adanya runway ketiga hanya mampu menambah hingga 114 pergerakan per jam.

Jumlah tersebut mungkin sudah cukup banyak, tetapi terasa sedikit pada saat peak season. Apalagi biasanya permintaan penerbangan pesawat terjadi pada jam tertentu saja.

"Namun, yang perlu dicermati adalah ketebalan runway. Nantinya pengelola bandara sudah harus memikirkan untuk meningkatkan PCN [kualitas permukaan/pavement classification number] yang bisa mengakomodir pesawat wide body," ujarnya.

Garuda Indonesia Group mengklaim telah memesan 14 unit Boeing 330-900neo. Hingga akhir 2019, akan diterima 5 unit dan sisanya dikirimkan secara bertahap hingga 2022.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pesawat inaca
Editor : Hendra Wibawa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top