Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investasi Portofolio Masih Jadi Pendongkrak Kinerja NPI

Berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal III/2019 yang dikutip Senin (25/11/2019), surplus dari transaksi modal finansial kuartal ini adalah US$7,6 miliar lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar US$7,1 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 26 November 2019  |  11:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Perbaikan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III/2019 banyak dipicu oleh transaksi modal dan finansial yang tinggi khususnya dari investasi portofolio.

Berdasarkan Laporan Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal III/2019 yang dikutip Senin (25/11/2019), surplus dari transaksi modal finansial kuartal ini adalah US$7,6 miliar lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar US$7,1 miliar.

Kenaikan inilah yang dipandang membantu menambal lebarnya defisit transaksi berjalan (CAD) pada kuartal III/2019 yang turun menjadi 2,7% dari PDB setelah kuartal sebelumnya berada pada 2,98% dari PDB.

Bank Indonesia memerinci bahwa peningkatan ini bersumber dari arus modal asing berbentuk investasi langsung dan investasi portofolio. Beberapa faktor lain yang mendorong peningkatan ini adalah penurunan defisit investasi lainnya, dan tingginya penarikan neto pinjaman sektor swasta serta lebih rendahnya pembayaran neto pinjaman pemerintah.

Secara lebih rinci, pada kuartal III/2019, investasi langsung tercatat US$4,8 miliar, memang masih lebih rendah dari kuartal sebelumnya US$5,4 miliar. Untuk pencatatan aliran modal keluar atau outflow kuartal III/2019 adalah US$600 juta, membaik dari outflow kuartal sebelumnya yaitu US$1,6 miliar yang didominasi dalam bentuk ekuitas.

Sumber surplus lain adalah dari sisi kewajiban, investasi langsung asing di Indonesia mencatat arus neto (net inflow) US$5,4 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan surplus kuartal sebelumnya yaitu US$7,0 miliar. Penyebabnya adalah penurunan arus masuk neto berbentuk ekuitas.

Secara tahunan, arus masuk kewajiban investasi langsung pada kuartal III/2019 tumbuh 20,6% (yoy), sejalan dengan meningkatnya aktivitas investasi domestik. Hal itu tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) kuartal III/2019 adalah 4,21% (yoy).

Bank Indonesia mengklaim, penurunan kewajiban investasi langsung ini sudah sejalan dengan prediksi dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), yang sudah mengindikasikan adanya perlambatan kegiatan usaha pada kuartal III/2019.

Alhasil, berdasarkan arah investasi Penanaman Modal Asing (PMA) kuartal III/2019 mencapai US$5,7 miliar, turun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya atau periode yang sama tahun lalu.

DAMPAK RELAKSASI

Bisnis.com mencatat, mulai Juli 2019 sampai Oktober 2019, Bank Indonesia sudah memangkas suku bunga acuan sampai 100 bps. Imbasnya, sepanjang kuartal III/2019, imbal hasil investasi keuangan domestik tetap menarik dan mendorong masuknya aliran modal asing.

Secara lebih rinci, dari sisi kewajiban inflow dari investasi portofolio tercatat US$4,9 miliar, naik dibandingkan dengan kuartal II/2019 sebesar US$4,6 miliar, dan meningkat signifikan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya US$1,3 miliar.

Meski demikian dari sisi aset investasi portofolio penduduk Indonesia ke luar negeri mengalami neto pembelian surat berharga negara (SBN), sebesar US$40 juta. Alhasil, sepanjang kuartal III/2019, neto inflow masih cukup tinggi yakni US$4,8 miliar.

Peningkatan terbesar dari neto inflow terjadi pada instrumen surat utang dari sektor swasta. Peningkatannya cukup drastis sebesar US$2,3 miliar dari sebelumnya US$0,4 miliar pada kuartal II/2019. Faktor penopang lainnya adalah penerbitan global bond korporasi pada Juli dan September 2019 dari perusahaan sektor energi.

“Perlambatan ekonomi global dan respons kebijakan bank sentral berbagai negara yang melonggar mendorong naiknya aliran modal asing neto pada investasi portofolio menjadi US$2,5 miliar,” tulis Bank Indonesia dalam laporannya.

Selain itu, imbal hasil domestik yang lebih menarik dibandingkan dengan negara peers serta nilai tukar terjaga mempengaruhi pembelian neto instrumen Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah dengan nilai US$2,6 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal II/2019 sebesar US$1,6 miliar.

Nilai itu dipandang Bank Indonesia lebih baik juga dari periode yang sama tahun lalu mencatat US$2,0 miliar. Meski demikian, posisi SUN rupiah yang dimiliki investor asing pada kuartal III/2019 meraup porsi 46,2% lebih rendah dari kuartal sebelumnya 46,6%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

neraca pembayaran
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top