Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bisnis Supermarket Masih Prospektif di Kawasan Permukiman Suburban

Prospek bisnis ritel modern segmen pasar swalayan (supermarket) dinilai masih menjanjikan di kawasan suburban dan wilayah permukiman kelas menengah.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 21 November 2019  |  15:49 WIB
Pengunjung memilih minuman di salah satu gerai supermarket - Jibi/Nurul Hidayat
Pengunjung memilih minuman di salah satu gerai supermarket - Jibi/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek bisnis ritel modern segmen pasar swalayan (supermarket) dinilai masih menjanjikan di kawasan suburban dan wilayah permukiman kelas menengah.

Sejumlah pebisnis supermarket hingga kini terus melakukan ekspansi dengan menambah gerai baru. Salah satunya adalah PT Lion Super Indo dengan jaringan supermarket Super Indo yang hingga akhir tahun ini akan membuka kembali 6 gerai barunya.

Chief Executive PT Lion Super Indo Johan Boiejenga mengatakan pada tahun ini perusahaan menargetkan pembukaan 11 gerai baru Super Indo di lokasi yang dekat dengan permukiman kelas menengah di sejumlah kota di Indonesia.

Adapun, saat ini Super Indo memiliki 173 gerai yang terdiri dari 167 gerai di 40 kota di Jawa dan Sumatra bagian selatan yang dikelola sendiri, serta 6 gerai Super Indo Express yang dikelola secara waralaba dan berukuran lebih kecil di Tangerang, Bekasi, dan Depok.

“Hingga akhir tahun ini kami masih akan membuka lagi 6 gerai Super Indo, yang dua di antaranya ada di Sumatra tepatnya di Provinsi Lampung, yakni di Metro dan Bandar Lampung,” katanya usai membuka gerai Super Indo Pedurenan, Bekasi pada Kamis (21/11/2019).

Selama November 2019, lanjutnya, jaringan supermarket yang hadir di Indonesia sejak 1997 itu telah membuka 3 gerai baru, antara lain gerai Super Indo Bojong Kulur, Bogor; Super Indo Pedurenan, Bekasi; dan Super Indo Silktown, Tangerang Selatan.

Ketiganya berlokasi di kawasan suburban yang sedang tumbuh dan didukung oleh masifnya pembangunan kawasan permukiman baru untuk kelas menengah.

Penambahan ketiga gerai tersebut didasari oleh kencangnya laju pertumbuhan ekonomi di masing-masing kota selama beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi Tangerang Selatan dan Bogor pada 2018 masing-masing 7,43% dan 6,19%. Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban (LKPJ) Walikota Bekasi 2013—2018, pertumbuhan ekonomi Bekasi mencapai 5,82%.

Johan menambahkan Super Indo berancana melakukan ekspansi lebih masif pada tahun depan dibandingkan dengan tahun ini. Perusahaan berencana membuka lebih banyak gerai di wilayah permukiman menengah Bekasi, Bogor, dan Tangerang Selatan.

“Ekspansi gerai kami akan semakin masif yang saat ini didukung oleh dua pusat distribusi, yaitu di Cikarang, Bekasi dan yang baru ada di Mojokerto. Adanya dua pusat distribusi tersebut memudahkan kami untuk memasok produk-produk ke gerai-gerai yang ada, khususnya produk-produk private label dan produk-produk segar seperti sayuran, buah-buahan, dan daging segar.”

Menurutnya, rencana ekspansi Super Indo tersebut disokong oleh relaksasi aturan yang diberikan oleh Kementerian Perdagangan yang memungkinkan peritel modern menambah jumlah gerai sebanyak-banyaknya tanpa harus melakukan waralaba.

Sekadar catatan, sebelumnya ekspansi yang dilakukan oleh peritel modern dibatasi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 68/2012 tentang Waralaba untuk Jenis Usaha Toko Modern yang mewajibkan peritel modern melakukan waralaba minimal 40% apabila telah memiliki lebih dari 150 gerai.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Suhanto menyebut peritel modern sudah seharusnya menyadari bahwa masyarakat saat ini lebih senang berbelanja kebutuhan sehari-harinya di gerai ritel modern yang lokasinya dekat dengan permukiman.

Hal tersebut tercermin dari penurunan konsumsi fast moving consumer goods (FCMG) sebesar 5,2% sepanjang September 2018—September 2019 di ritel modern dengan format pasar swalayan, khususnya yang berukuran besar atau hypermarket.

“Konsumsi FCMG di ritel modern secara keseluruhan tumbuh 7,6% sepanjang September 2018—September 2019. Penurunan terjadi di ritel modern yang formatnya besar, baik supermarket atau hypermarket. Peritel modern di format tersebut diharapkan bisa beradaptasi dengan perubahan dan menyesuaikan konsep bisnisnya,” katanya kepada Bisnis.com.

Suhanto menyebut Kemendag terus berupaya agar industri ritel modern di Tanah Air bisa terus tumbuh, salah satunya dengan menyederhanakan perizinan dan membangun pola pelayanan perizinan yang mudah melalui Online Single Submission (OSS).

Selain itu, sejumlah kebijakan juga disiapkan untuk memberikan keseimbangan, jaminan kepastian, dan iklim usaha yang baik bagi industri ritel modern.

“Sebagai contoh, kebijakan yang mengizinkan peritel modern untuk mendapatkan pasokan barang langsung dari produsen melalui Permendag No. 66/2019 tentang Perubahan Atas Permendag No. 22/2016 tentang Ketentuan Umum Distribusi Barang,” paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

supermarket ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top