Ramai-Ramai Berbisnis Grosir Online, Seberapa Menguntungkan?

Perkembangan teknologi mulai memunculkan perubahan perilaku konsumen, tak terkecuali pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di segmen penjualan barang eceran yang mulai beralih ke platform e-commerce atau dagang-el yang dikhususkan untuk penjualan dalam partai besar atau grosir.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 11 November 2019  |  15:17 WIB
Ramai-Ramai Berbisnis Grosir Online, Seberapa Menguntungkan?
Suasana pengelolaan barang pesanan di gudang Jet Commerce. - dok. Jet Commerce

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan teknologi mulai memunculkan perubahan perilaku konsumen, tak terkecuali pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di segmen penjualan barang eceran yang mulai beralih ke platform e-commerce atau dagang-el yang dikhususkan untuk penjualan dalam partai besar atau grosir.

Hal tersebut akhirnya direspons oleh sejumlah produsen maupun distributor utama di Tanah Air yang selama ini memasarkan produknya secara konvensional dan membutuhkan lebih dari satu distributor sebelum produk tersebut sampai di tangan pengecer. Salah satunya adalah Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) yang kini gencar memasarkan produk-produk komersial melalui platform dagang-el khusus grosir.

Kepala Bagian Informasi dan Humas Perum Bulog Teguh Firmansyah mengatakan sudah sejak tahun lalu pihaknya memasarkan sejumlah produk premiumnya yang terdiri dari tepung terigu, minyak goreng, gula, hingga beras premium dengan berbagai jenis dengan label KITA yang sebelumnya dipasarkan melalui Rumah Pangan KITA (RPK).

“Pemasaran eceran secara online melalui e-commerce sudah dilakukan sejak Juli 2018 di Tokopedia, sedangkan untuk grosir di Bukalapak lewat Mitra Bukalapak sudah berjalan sejak Agustus 2018. Khusus untuk Mitra Bukalapak adalah produk Gula Manis KITA yang didistribusikan ke warung-warung pengecer sehingga membantu kemudahan akses pangan produk Bulog kepada konsumen,” katanya kepada Bisnis.com akhir pekan lalu.

Selain itu, Teguh menyebut sejak Oktober 2019 Bulog telah memasarkan produk-produk unggulan secara grosir melalui platform dagang-el Ralali.com. Adapun, produk unggulan tersebut terdiri dari Beras KITA Premium, Minyak Goreng KITA, Tepung Terigu KITA, dan Gula Manis KITA.

Menurut Teguh, pemasaran produk Bulog dengan label KITA melalui platform dagang-el secara grosir telah berkontribusi sebesar 20% dari total pendapatan perseroan saat ini. Kontribusi tersebut diharapkan bisa semakin meningkat seiring dengan berkurangnya penugasan pemerintah untuk mengelola cadangan beras pemerintah (CBP).

Selain itu, melalui pemasaran tersebut, diharapkan citra produk Bulog yang selama ini diasosiasikan dengan produk-produk subsidi berkualitas kurang baik berangsur-angsur hilang di tengah masyarakat.

“Sekitar 20%, harapannya 2-3 tahun lagi bisa sampai dengan 75%, kita gencarkan campaign-nya supaya masyarakat tahu kalau Bulog punya produk premium dengan harga terjangkau,” ungkapnya.

Tidak dijelaskan secara rinci bagaimana margin penjualan secara grosir melalui platform dagang el tersebut. Namun, yang jelas, pemasaran menjadi lebih efisien dan cepat lantaran tak membutuhkan banyak perantara distributor seperti sebelumnya.

Sementara itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari yang memproduksi tepung terigu bermerk Bogasari dengan berbagai varian saat ini diketahui telah memasarkan produknya melalui sejumlah platform dagang-el baik secara eceran maupun grosir dengan Bogasari Official Store sejak 2017. Adapun, untuk penjualan secara grosir Bogasari Official Store tersedia di tiga platform dagang el, yakni Mitra Tokopedia, Mitra Bukalapak, dan Ralali.com.

Senior Vice President Commercial PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Divisi Bogasari Ivo Ariawan mengatakan kontribusi penjualan melalui platform dagang el baik secara eceran maupun grosir terhadap keseluruhan penjualan produk-produk Bogasari masih sangat kecil.

Menurutnya, hal tersebut terjadi lantaran sebagian besar konsumen Bogasari merupakan UMKM produsen makanan dan minuman yang masih menyukai interaksi langsung dengan penjual untuk mendapatkan informasi soal pasar, harga, hingga bantuan finansial.

Ivo tak memberikan perincian seberapa besar kontribusi penjualan dari platform dagang-el produk-produk Bogasari. Namun, sebanyak 65% konsumen Bogasari merupakan UMKM produsen makanan dan minuman, 30% industri makanan dan minuman, dan sisanya adalah rumah tangga.

“UMKM produsen makanan dan minuman ini biasanya tidak hanya membeli terigu saja, tetapi bahan baku lainnya sekaligus sehingga mendapatkan jasa pengiriman dari toko terdekat. [Selain itu,] bagi sebagian besar UMKM belum terbiasa berbelanja online karena dinilai masih agak ribet dan banyak dari mereka,” katanya kepada Bisnis.

Lebih lanjut, Ivo menjelaskan tidak menutup kemungkinan UMKM produsen makanan dan minuman tersebut akan melirik platform dagang el seiring dengan perubahan generasi yang semakin terbiasa an terbuka dengan perubahan, terutama dari sisi teknologi informasi (TI).

Untuk itu, pihaknya akan terus melihat situasi serta kondisi untuk menjawab perubahan tersebut baik dari sisi produk, distribusi, dan pemasaran.

Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk diketahui telah memasarkan produknya secara grosir melalui sejumlah platorm dagang-el dengan Unilever Food Solutions untuk produk-produk bahan makanan dan Unlever Official Store untuk produk-produk lainnya. Namun, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk Sancoyo Antarikso enggan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

“Belum bisa kami jawab untuk saat ini [mengenai penjualan di e-commerce] karena kebijakan perusahaan untuk tidak bisa memberikan detail informasinya,” katanya kepada Bisnis.com.

PLATFORM O2O

Tak ingin melewatkan potensi pendapatan dari penjualan grosir secara daring, dua platform dagang-el di Tanah Air yakni Tokopedia dan Bukalapak mulai serius menggarap lini bisnis online to offline (O2O) melalui platform yang terpisah secara sistem dan aplikasi dengan platform dagang-el yang dikembangkan sebelumnya untuk penjualan ritel atau eceran.

Assistant Vice President (AVP) of New Retail Tokopedia Adi Putra mengatakan Mitra Tokopedia merupakan aplikasi yang awalnya dikembangkan untuk mempermudah UMKM yang terdiri warung, toko kelontong, atau agen perorangan menjual berbagai macam produk digital seperti pulsa atau paket data, token listrik, voucher game, hingga layanan pembayaran tagihan.

Dalam perkembangannya, aplikasi yang diluncurkan pada November 2018 itu kemudian menambah fitur yang memungkinkan UMKM, terutama warung atau toko kelontong untuk membeli produk kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan minuman serta produk perawatan tubuh secara grosir langsung dari ponsel pintar mereka.

“Saat ini kami telah berkolaborasi dengan lebih dari 30 produsen atau distributor untuk membantu dan mempermudah lebih dari 350.000 pemilik warung, toko kelontong dan usaha sejenis lainnya lewat aplikasi Mitra Tokopedia,” katanya kepada Bisnis.com.

Adi tak memberikan penjelasan lebih lanjut siapa saja produsen atau distributor yang telah berkolaborasi dengan Tokopedia untuk fitur grosir dalam aplikasi Mitra Tokopedia. Namun yang jelas, menurutnya saat ini 30 produsen atau distributor tersebut sudah bisa digunakan oleh pemilik warung atau toko kelontong di 25 kota dari Banda Aceh hingga Manado.

Adapun, untuk fitur penjualan produk-produk digital, menurut Adi sudah bisa digunakan di lebih dari 500 kota atau kabupaten dan telah menjangkau lebih dari 20 juta masyarakat di seluruh Indonesia.

Sebagai upaya pengembangan Mitra Tokopedia, Adi menjelaskan pihaknya juga menyiapkan tim khusus yang bertugas memberikan edukasi mengenai aplikasi Mitra Tokopedia sekaligus pengembangan usaha bagi UMKM. Selain itu, sebagai upaya memajukan ekosistem warung sebagai salah satu UMKM penggerak perekonomian masyarakat, Tokopedia juga akan menginisiasi ‘Gerakan Warung Nasional’.

“[Peluncuran] ‘Gerakan Warung Nasional’ akan disertai sebuah perayaan pada 14-15 Desember 2019 di Jakarta sebagai momen apresiasi kami dengan tujuan menginspirasi masyarakat untuk berkolaborasi mengembangkan ekosistem warung di Indonesia,” ungkapnya.

Setali tiga uang dengan Tokopedia, Bukalapak juga memiliki aplikasi yang dikhususkan untuk transaksi O2O yakni Mitra Bukalapak. Sama seperti Mitra Tokopedia, aplikasi tersebut pada awalnya dikembangkan untuk penjualan produk-produk digital dengan nama Agen Bukalapak. Baru pada akhir 2018, fitur pembelian grosir ditambahkan yang diikuti dengan perubahan nama menjadi Mitra Bukalapak.

“Saat ini sudah ada 150 principal yang memasok [produknya] ke Mitra Bukalapak dengan lebih dari 1.500 produk yang bisa didapatkan melalui aplikasi tersebut dan sebagian besar adalah nama-nama besar diantaranya seperti Unilever dan Indofood,” kata Head of Corporate Communications Bukalapak Intan Wibisono kepada Bisnis.

Adapun, saat ini diketahui produk selain produk digital yang paling banyak ditransaksikan melalui Mitra Bukalapak secara grosir adalah produk-produk kebutuhan pokok diikuti oleh rokok.

Hingga Oktober 2019, Mitra Bukalapak tercatat telah menggandeng lebih dari 2,5 juta UMKM yang terdiri dari warung, toko kelontong, atau agen perorangan di 477 kota atau kabupaten di seluruh Indonesia. Mitra Bukalapak merupakan salah satu salah satu strategi yang digunakan oleh Bukalapak untuk memperluas pangsa pasarnya ke kalangan masyarakat yang belum melek teknologi.

Saat ini  penetrasi platform dagang el di Indonesia hanyalah sekitar 4.4% dari jumlah total penduduk Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa pada April 2019 menurut Worldometers. Selain itu, tercatat pula separuh dari jumlah populasi tersebut tidak memiliki rekening bank atau unbanked.

Lain halnya dengan Ralali.com, platform dagang el yang pertama kali hadir pada 2013 sejak awal menyatakan dirinya sebagai platform business to business (B2B) dengan target konsumen pelaku usaha, terutama UMKM dari berbagai segmen yang menginginkan kemudahan dan kepraktisan dalam memenuhi kebutuhan usahanya.

Vice President of Commercial and Partnership Ralali.com Alvin Aulia Akbar mengatakan saat ini Ralali.com telah melayani sekitar 700.000 UMKM yang tersebar di sejumlah kota di Tanah Air yang didominasi oleh warung atau toko kelontong.

Ralali.com membagi produk-produk yang ditawarkan ke dalam sejumlah kategori, antara lain kuliner dan jasa makanan (BIG Resto), usaha perkantoran (BIG Office), usaha otomotif (BIG Auto), usaha bahan bangunan (BIG Home), usaha kebutuhan fast moving consumer goods FMCG (BIG Mart), usaha retail (BIG Market) dan usaha jasa berbasis pekerjaan (BIG Agent).

"Proporsi UMKM yang menjadi pelanggan Ralali.com didominasi oleh 75% pengecer seperti warung kelontong, toko pakaian, toko gawai dan aksesorisnya, toko komputer dan aksesorisnya yang tergabung dalam kategori BIGMart. Kemudian disusul oleh pelaku UMKM kuliner seperti kafe, katering, dan rumah makan yang tergabung dalam kategori BIGResto sebesar 9,5%," katanya demikian.

Sampai dengan akhir tahun ini Ralali.com menargetkan lebih dari 1 juta UMKM dapat terlayani dengan dukungan investasi melalui pendanaan seri C sebesar US$13 juta pada Juli 2019 lalu yang berasal dari sejumlah investor dari luar negeri.

Produk-produk yang ditawarkan oleh Ralali.com mencapai 300.000 produk yang dipasok oleh lebih dari 14.000 pemasok yang sekitar 11.000 diantaranya merupakan pemasok berskala besar atau produsen langsung antara lain adalah Bogasari Official Store, Unilever Food Solutions, Sasa Official Store, dan Bulog.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce, grosir

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top