Ekspor Korsel & Jepang Lesu, Ekonomi Global Makin Terancam

Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tak hentinya menunjukkan tanda-tanda menggerus ekonomi global. Yang terkini, ekspor di Jepang dan Korea Selatan dilaporkan telah memperpanjang penurunannya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  13:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China tak hentinya menunjukkan tanda-tanda menggerus ekonomi global. Yang terkini, ekspor di Jepang dan Korea Selatan dilaporkan telah memperpanjang penurunannya.

Ekspor Korea Selatan anjlok 20 persen sepanjang 20 hari pertama Oktober 2019, menempatkan negara yang bergantung pada perdagangan pada jalur untuk penurunan bulanan ke-11.

Sementara itu, ekspor Jepang turun 5,2 persen pada September 2019, penurunan bulan ke-10 berturut-turut sekaligus rentetan penurunan beruntun terpanjang sejak 2016.

Penurunan yang terus-menerus dialami dua negara berekonomi kuat asal Asia itu seakan memperkuat pandangan para menteri keuangan dan bankir global akhir pekan kemarin di Washington mengenai upaya lebih intensif yang harus dilakukan guna memacu permintaan.

Meski AS dan China memperlihatkan perkembangan atas hubungan perdagangan yang telah terpukul lemparan tarif impor oleh masing-masing selama lebih dari satu tahun terakhir, momentum dalam perdagangan global tetap tak bergairah.

“Pertumbuhan perdagangan global terlihat mengerikan,” ujar Rob Carnell, kepala riset dan kepala ekonom untuk Asia Pasifik di ING Group NV.

“Pemerintah negara-negara dunia menjadi sangat segan menghabiskan kredibilitas fiskal yang mereka peroleh selama bertahun-tahun untuk mengatasi masalah siklis,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg.

Para pembuat kebijakan moneter mengatakan kehabisan ruang untuk memangkas suku bunga yang sudah rendah. Menggabungkan pengeluaran pemerintah bersama dengan kebijakan moneter dan reformasi struktural untuk pertumbuhan menjadi tema utama pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington akhir pekan kemarin.

“Pertumbuhan yang lebih lambat mensyaratkan kebijakan moneter untuk tetap mendukung, tetapi kita semua mengakui bahwa kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendirian,” kata Bos IMF Kristalina Georgieva di Washington.

“Kebijakan fiskal harus memainkan peran yang lebih aktif,” tambahnya.

Pekan lalu, IMF memperingatkan bahwa pemimpin-pemimpin anggaran di negara-negara besar harus siap untuk tindakan terkoordinasi jika terjadi perlambatan ekonomi yang parah akibat perang dagang AS-China.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Bank of Korea (BoK) Lee Ju-yeol mengatakan perang perdagangan mungkin memangkas pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sebesar 0,4 poin persentase.

Pekan lalu, BoK memangkas suku bunga acuannya untuk mendukung ekonomi yang melambat setelah harga konsumen Negeri Ginseng turun untuk pertama kalinya pada September.

Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) berencana untuk melakukan peninjauan atas dampak perlambatan global terhadap perekonomian domestiknya sendiri dan inflasi pada bulan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global, perang dagang AS vs China

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top