Ini Dua Catatan Asosiasi Logistik dari Pidato Kenegaraan Jokowi

Tol laut memiliki ide yang sangat baik tetapi implementasinya sama dengan program kapal perintis.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 20 Oktober 2019  |  19:46 WIB
Ini Dua Catatan Asosiasi Logistik dari Pidato Kenegaraan Jokowi
Kapal Motor (KM) Binaiya meninggalkan dermaga Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menggarisbawahi dua hal penting seusai mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo, saat pelantikannya di Gedung MPR/DPR, Minggu (20/10/2019).

Ketua Umum ALI, Zaldi Ilham Masita, menerangkan dari pidato kenegaraan ada dua hal penting bagi logistik Indonesia yaitu dilanjutkan pembangunan infrastruktur dan transformasi ekonomi.

"Kita harapkan pemerintahan ke-2 Presiden Jokowi bisa fokus untuk membangun infratruktur yang memberikan dampak langsung pada ekonomi yaitu infrastruktur yang mendukung pariwisata. Selain itu, pembangunan pelabuhan dan jalan non tol di wilayah Indonesia Tengah dan Timur," tuturnya kepada Bisnis, Minggu (20/10/2019).

Menurutnya, pembangunan jalan tol seharusnya dilimpahkan kepada swasta untuk Indonesia Barat yang secara volume sudah besar dan mempunya nilai komersial.

Dia menilai transformasi ekonomi tidak akan tercapai bila tidak didukung logistik yang andal dan efisien. "Ini yang menjadi pekerjaan rumah paling penting dari pemerintah, kita harapkan Presiden memilih menteri-menteri yang bisa mengimplementasikan visi misi dengan benar," imbuhnya.

Dia menuturkan ketidakmampuan dari menteri dalam menjalankan visi misi Presiden secara inovatif akan menghasilkan program yang asal jalan. Dia merinci sejumlah program yang dianggap jauh dari harapan seperti tol laut. tol trans jawa, maraknya truk kelebihan muatan dan dimensi.

Tol laut terangnya, memiliki ide yang sangat baik tetapi implementasinya sama dengan program kapal perintis zaman pemerintahan Soeharto, sehingga hasilnya juga jauh dari harapan.

Sementara itu, terkait jalan tol Trans Jawa dinilai tidak optimal dipakai oleh angkutan barang karena pendekatannya masih pendekatan pengembalian investasi tol yang sudah dikeluarkan oleh BUMN, sehingga ongkos jalannya menjadi mahal.

"Overdimension overload [ODOL] yang tidak tegas diimplementasikan malah sekarang mundur ke 2021. Kalau Menteri-menterinya masih tidak bisa menerjemahkan visi misi Presiden dengan inovatif maka Indonesia tidak akan berubah menjadi negara maju pada tahun 2045," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, transportasi

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top