Kisah Mita Sukses Beternak Sapi Perah Mandiri

Bila dihitung produksi minimal dalam sehari penjualan susu sekitar Rp480.000.
Miftahul Ulum
Miftahul Ulum - Bisnis.com 18 Oktober 2019  |  21:55 WIB
Kisah Mita Sukses Beternak Sapi Perah Mandiri
Mita Kopiyah, peternak binaan Frisian Flag Indonesia (FFI) di kandang pola baru yang diduplikasi dari pengalaman mengikuti studi banding ke Belanda. - Bisnis/Miftahul Ulum

Bisnis.com, TULUNGAGUNG — Pasokan susu nasional yang mayoritas mengandalkan impor membuat prospek bisnis produksi susu cukup menjanjikan.

Setidaknya itu dibuktikan Mita Kopiyah, perempuan berusia 30 tahun, yang sukses mengelola peternakan sapi perah mandiri. Bersama suami, Slamet, sebanyak 15 ekor sapi kini dikelola.

"Delapan ekor yang laktasi [memproduksi susu], biasa 12 liter sampai 18 liter per hari [per ekor] produksinya sekarang. Bahkan ada yang pernah 25 liter per ekor per hari," jelas Mita saat ditemui di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.

Kecamatan Pagerwojo yang terletak sekitar 20 km dari pusat Tulungagung merupakan sentra peternak sapi, mayoritas sapi perah. Mita terjun di bidang peternakan sapi perah karena kedua orang tua juga peternak.

Mita mulanya beternak seperti kebanyakan dilakukan peternak di wilayahnya. Sapi dikeluh (ditali), kandang model tinggi di bagian tempat pakan, minum sapi dijatah, sapi dimandikan dua kali sehari. Produksi susu dengan pola seperti itu hanya 12 liter per ekor per hari.

Hingga pada 2018, Mita bergabung sebagai peternak binaan Frisian Flag Indonesia melalui Koperasi Bangun Lestari. Ia mengikuti program Farmer2Farmer dan terpilih mengikuti studi banding antarpeternak ke Belanda selama dua pekan.

"Saya belajar manajemen kandang, pakan, dan mencatat perkembangan sapi. Ilmu baru dilaksanakan setelah pulang dan terbukti bisa meningkatkan produksi menjadi 15-18 liter per ekor per hari," jelasnya.

Slamet, suami Mita, menambahkan perbaikan pola beternak juga didukung dengan tata kelola makanan. Lahan 1 hektare miliknya di perbukitan sekitar tempat tinggalnya difokuskan untuk menanam jagung dan rumput gajah.

Saat panen melimpah, kata Slamet, jagung difermentasi untuk persediaan musim sulit pakan. Demikian pula jumlah hijauan (rumput gajah) maupun konsentrat diberikan sesuai takaran.

"Kami sekarang berani mengajukan kredit untuk kadang dan menambah sapi," katanya saat ditanya hasil beternaknya.

Sekretaris Koperasi Bangun Lestari Nurdin Afandi mengatakan kesuksesan Slamet dan Mita menginspirasi peternak lain. Mereka meniru model sapi tanpa keluh (tali), kandang pendek di tempat makan, penyediaan air minum permanen, ketersediaan pakan fermentasi, hingga pola memandikan sapi.

"Manfaatnya nyata, produksi meningkat, makanya banyak yang meniru," katanya.

Sebagai gambaran, harga susu di tingkat peternak Rp5.000 per liter. Sapi milik Mita menghasilkan 12-18 liter per hari per ekor. Adapun sapi yang berproduksi 8 ekor. Sehingga bila dihitung produksi minimal dalam sehari penjualan susu sekitar Rp480.000.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan, susu, sapi perah

Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top