Pengembangan KEK Likupang: Kemenpar Berharap Peraturan Pemerintah Diteken Oktober 2019

Peraturan pemerintah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara sebagai salah satu dari destinasi super prioritas diharapkan bisa diteken pada Oktober 2019.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  16:26 WIB
Pengembangan KEK Likupang: Kemenpar Berharap Peraturan Pemerintah Diteken Oktober 2019
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) melakukan kunjungan ke Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Pulisan, Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (4/7/2019). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Peraturan pemerintah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara sebagai salah satu dari destinasi super prioritas diharapkan bisa diteken pada Oktober 2019.

Hal ini dikemukakan oleh Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata Guntur Sakti. “Iya kami berharap diteken Oktober ini,” kata Guntur kepada Bisnis.com, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, Likupang memiliki beberapa daya tarik bagi wisatawan sehingga hal itu menjadi alasan dia dipilih sebagai salah satu destinasi super prioritas.

“Mulai dari Marina Area untuk tempat sandar super yacht dengan standart internasional. Lalu ada cultural village, dan Wallace Conservation dan Marine Tourism Park yang menjadi alasan wisatawan datang ke Likupang,” jelasnya.

Saat ini, imbuhnya, pemerintah tengah melakukan pembangunan infrastruktur dan utilitas dasar di wilayah tersebut. Mulai dari pembangunan infrastruktur transportasi udara, yaitu Bandara Sam Ratulangi.

Nantinya runway untuk bandara ini akan diperpanjang menjadi 2.800 meter dari yang semula 2.600 meter. Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan pemugaran bandara menjadi hampir dua kali lipat dari 26.000 meter persegi menjadi 56.000 meter persegi.

“Pembangunan kedua yaitu infrastruktur transportasi darat menuju lokasi KEK, pembangunan jalan bypass  dari bandara menuju KEK Likupang sepanjang 31,5 Km. Pembangunan jalan non tol, pelebaran jalan nasional Likupang-Girian sepanjang 12.7 km, pelebaran jalan akses pariwisata di Likupang sepanjang 3.2 km.”

Kemudian, pemerintah juga lakukan penyediaan listrik. Menurutnya, saat ini progresnya telah dilakukan nota kesepahaman antara Pengusul KEK Likupang dengan PLN Wilayah Suluttenggo.

“Penyediaan air bersih, surat dukungan rencana Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) oleh PDAM Minahasa Utara. Telekomunikasi, nota kesepahaman antara PT. Telekomunikasi Indonesia. Tbk dengan PT. Minahasa Permai Resort Developent tentang penyediaan dukungan layanan telekomunikasi dalam area KEK Likupang.”

Sedangkan terkait rencana anggaran KEK Likupang yang telah ditetapkan sebagai destinasi super prioritas, pemerintah menyiapkan anggaran senilai Rp773,71 miliar dari APBN  2020.

Terkait fasilitas penginapan, Guntur mengatakan akan dilakukan pemetaan potensi homestay di sejumah wilayah Likupang yaitu di Desa Marinsow, Desa Pulisan, Desa Kinunang, Desa Bahoi dan Desa Pulau Gangga.

Dia menuturkan adanya KEK Likupang ini diharapkan terjadi lonjakan jumlah wisatawan yang datang ke Sulawesi Utara. Dia mengklaim, selama ini, dalam empat tahun terakhir pariwisata Sulut tumbuh sebesar 6 kali lipat atau 600% dengan kunjungan wisman ke Sulut meningkat 6 kali lipat.

“Begitu juga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari sekitar 2 juta menjadi 4 juta atau dua kali lipat, 200%, padahal di daerah lain hanya sekitar 5 sampai 10%.”

Sementara itu, Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia, Azril Azhari mengatakan, meski pemerintah mengembangkan KEK Likupang sebagai destinasi wisata super prioritas, namun daya tarik wilayah tersebut masih cukup rendah.

Ini karena,  dalam pengembangan KEK Likupang, pemerintah hanya terfokus pada wisata alam terutama wisata bahari.

Padahal, jika tren karakter wisatawan  sudah mulai bergeser dari yang tadinya Sun-Sand-Sea menjadi serenity-spirituality- sustainability atau dikenal dengan semboyan ‘TERR’ yaitu travel enjoy respect and responsibility.

“Untuk mengembangkan suatu destinasi disamping mengembangkan amenitas dan akses, yang pending mengembangkan daya tarik bagi wisatawan.  Untuk mengembangkan daya tarik, harus fokus pada keunikan dan keotentikan destinasi tersebut, kalau sama dengan yang lain tentu tidak memiliki keunikan dan keotentikan destinasi tersebut,” kata Azril.

Sebagai informasi, mengacu pada situs online travel agent (OTA), biaya transportasi udara dari Jakarta menuju bandara Sam Ratulangi Manado untuk kelas ekonomi maskapai Lion Air sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta, maskapai Batik Air sekitar Rp2,9 juta dan maskapai Garuda kelas ekonomi sekitar Rp3 jutaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kawasan ekonomi khusus

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top