Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diproyeksi 5,06 Persen

Jika Indonesia tak segera memperbaiki kinerja ekspor tahun ini, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi hanya pada kisaran 5,06 persen tahun ini.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 13 September 2019  |  18:18 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2019 Diproyeksi 5,06 Persen
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Jika Indonesia tak segera memperbaiki kinerja ekspor tahun ini, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi hanya pada kisaran 5,06 persen tahun ini.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan prediksi ekonomi Indonesia akan melambat sampai 4,6 persen sampai 2022 tidak sepenuhnya salah. Hal ini mengingat ada tekanan yang tinggi terhadap ekspor Indonesia.

Selain itu, investasi yang tumbuh melambat dibandingkan negara Asia Tenggara lain yang lebih ambisius mengalahkan Indonesia.

"Ekspektasi kami tahun ini 5,06 persen tapi jika komprasi dengan negara lain kami tekankan Indonesia akan lebih menarik," ujar Andry beberapa waktu lalu di Plaza Mandiri.

Menurut Andry, tahun ini ekonomi Indonesia juga sudah dikoreksi oleh Kemenkeu dengan perkiraan 5,08 persen tak jauh berbeda dari prediksi Tim Ekonomi Bank Mandiri. Selisih ini kata Andry akibat kinerja ekspor yang cenderung tak berubah.

"Kami melihat performance dari ekspor lebih dalam dari proyeksi awal. Kedua, asumsi kami untuk investasi waktu kami membuat forecast awal 2019 dulu memang relatif lebih tinggi dibanding actual sampai saat ini," jelasnya.

Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memproyeksikan tahun ini pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai 5,2 persen asalkan ada perbaikan kinerja investasi pada semester II/2019.

Dilansir dari dokumen Perkembangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Triwulan II/2019 dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen masih bisa tercapai meski berada di bawah target awal pemerintah 5,3 persen.

Bappenas menyebut proyeksi ini masih berada di rata-rata yang masih sama dengan sejumlah lembaga lain.

Sebut saja proyeksi IMF atas Indonesia tumbuh 5,2 persen tahun ini, proyeksi World Bank menjadi 5,1 persen, OECD memproyeksikan 5,1 persen, ADB memproyeksikan 5,2 persen, JP Morgan memproyeksikan 5,2 persen, sementara data Bloomberg dari survei pasar mencapai 5,0 persen.

Perbaikan investasi disebut Bappenas menjadi harapan seiring dengan masih bagusnya indeks PMI dan berakhirnya ketidakpastian pasca Pemilu.

Bappenas juga menyatakan bahwa meningkatnya pertumbuhan juga sangat tergantung dari dorongan sisi fiskal.

Maka Bappenas mengingatkan bahwa realisasi belanja yang tinggi, sementara penerima perpajakan cenderung melambat akan mendorong peningkatan defisit fiskal. Sejauh mana defisit fiskal juga kunci dorongan konsumsi dan investasi pemerintah. Apalagi, ekspor masih stagnan akibat kondisi ketidakpastian global dan harga komoditas yang tak terkerek naik.

Sementara dari sisi lapangan usaha, kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun berpangku pada tiga sektor yakni; pertanian, pertambangan, dan penggalian, dan terakhir industri pengolahan.

Ketiganya juga hanya bisa mendongkrak pertumbuhan jika share terhadap PDB bisa mencapai 40 persen. Namun jika tidak ada perbaikan atas 3 sektor ini maka pertumbuhan ekonomi bisa meleset lebih rendah dari 5,2 persen.

Saat ini sektor yang masih terproyeksi tumbuh positif adalah jasa informasi dan komunikasi, jasa perusahaan, dan jasa kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top