Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kunci Hadapi Resesi Global, Neraca Perusahaan Domestik Harus Stabil

Ekonom Unika Atmajaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko menyatakan, Bank Dunia sudah memberikan arahan bahwa ekonomi Indonesia jangka pendek tak akan banyak terpengaruh resesi global. Sebaliknya, untuk jangka panjang ada potensi pertumbuhan terkoreksi menjadi lebih kecil dari target.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 12 September 2019  |  17:43 WIB
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi

Bisnis.com, JAKARTA -- Prediksi resesi global seharusnya membuat pemerintah lebih memberikan perhatian pada sektor mikro ekonomi, yakni neraca perusahaan agar tetap terjaga dalam struktur yang sehat.

Ekonom Unika Atmajaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko menyatakan, Bank Dunia sudah memberikan arahan bahwa ekonomi Indonesia jangka pendek tak akan banyak terpengaruh resesi global. Sebaliknya, untuk jangka panjang ada potensi pertumbuhan terkoreksi menjadi lebih kecil dari target.

"Jangka panjang pertumbuhan ekonomi kita terkoreksi, dan kita tak tahu fundamental mikro di neraca perusahaan baik atau tidak karena terkadang ada banyak untuk menutupi," ujar Prasetyantoko di Djakarta Theater, Kamis (12/9/2019).

Biasanya ketika terjadi gejolak balancing sheet kerap terlambat untuk diatasi. Maka dia mengimbau pemerintah untuk ikut memitigasi ancaman resesi di sektor swasta.

Sementara itu, Prospera Lead Adviser Andry Asmoro menyatakan resesi global memang telah mengoreksi pertumbuhan ekonomi sejumlah negara di Asia Tenggara, sebut saja salah satunya adalah Singapura.

Indonesia saat ini masih mengandalkan 57% geliat ekonomi dari konsumsi domestik. Adapun investasi domestik juga masih 30%, sedangkan rasio investasi pemerintahan baru 10%. Secara keseluruhan, sekitar 80% dari kerja ekonomi Indonesia terselamatkan oleh kegiatan ekonomi dalam negeri.

"Artinya impact resesi tidak akan sebesar di Singapura. Kalau negara yang exposure-nya lebih besar pasti dia swing-nya lebih besar juga," ungkap Andry.

Dia hanya menyebutkan, jika Indonesia mengalami perlambatan ekonomi, Indonesia akan lebih sulit untuk bangkit karena ekspor manufaktur yang belum kuat. Menurut Andry, ketergantungan pada komoditas tak membuat pondasi ekonomi Indonesia cukup kuat.

Meski demikian, di tengah eskalasi perang dagang, Andy berharap Indonesia bisa mencontoh strategi Thailand yang meraup untung demi ketahanan ekonomi melalui kerja sama manufaktur dengan China.

Andry menilai perang dagang dan ancaman resesi jadi peluang Indonesia membuka kerja sama dengan negara-negara baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi global
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top