Batam Bakal Miliki Jalan Tol, Begini Skenarionya

Jalan tol yang akan dibangun bakal menghubungkan Bandara Hang Nadim dengan kawasan Batu Ampar.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 10 September 2019  |  07:07 WIB
Batam Bakal Miliki Jalan Tol, Begini Skenarionya
Proyek pembangunan jalan tol Trans-Sumatra. - Hutama Karya

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hutama Karya (Persero) memperkirakan penyusunan trase jalan tol di Pulau Batam bisa rampung pada akhir 2019.

Jalan tol sepanjang 25 kilometer ini merupakan 1 dari 24 ruas jalan tol Trans Sumatra yang ditugaskan kepada perseroan.

Kepala Divisi Pengembangan Jalan Tol Hutama Karya Agung Fajarwanto mengatakan bahwa jalan tol di Pulau Batam yang akan dibangun bakal menghubungkan Bandara Hang Nadim dengan kawasan Batu Ampar.

Sejauh ini, rencana pembangunan jalan tol masih dalam fase penyusunan trase oleh Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Fajar berharap supaya penyusunan trase bisa rampung pada akhir 2019. Fase tersebut bakal berlanjut pada rencana ruang milik jalan atau right of way untuk kemudian dibuat dokumen perencanaan pengadaan tanah (DPPT).

Tahapan berikutnya adalah penetapan lokasi sebelum akhirnya dibuat perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT).

"Jalan tol ini masuk dalam penugasan, sekarang tahapan pemilihan trase. Kemungkinan nanti akan lebih banyak elevated [layang]," ujarnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Fajar menuturkan bahwa konstruksi melayang akan dipilih karena ketersediaan lahan di Pulau Batam cukup terbatas.

Badan Pengusahaan (BP) Batam sebelumnya juga sudah melarang pembangunan perumahan tapak dan mendorong pengembang membangun perumahan vertikal.

Porsi penggunaan konstruksi melayang, menurut Fajar, ditaksir mencapai 70 persen dari keseluruhan panjang konstruksi jalan tol. Namun, perkiraan itu belum final karena masih menunggu penetapan trase.

Penggunaan konstruksi melayang, lanjutnya, bakal berdampak pada biaya pembangunan. Secara umum, konstruksi melayang menelan biaya investasi 3—4 kali lipat dibandingkan dengan konstruksi timbunan tanah atau at grade. Namun, di sisi lain, konstruksi melayang lebih irit dalam penggunaan lahan.

Fajar menyebutkan bahwa pembebasan lahan nantinya menjadi porsi pemerintah. Dia menuturkan bahwa sepanjang persoalan lahan bisa dituntaskan, pembangunan jalan tol dalam kondisi tanah sesulit apapun bisa diatasi dengan teknologi konstruksi terkini.

Dalam catatan Bisnis, jalan tol di Pulau Batam akan menjadi satu-satunya jalan tol yang tidak berada di Pulau Sumatra. Lewat Peraturan Presiden No. 117 Tahun 2015, Hutama Karya mendapat penugasan untuk menggarap 24 ruas jalan tol Trans-Sumatra sepanjang 2.765 kilometer.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batam, jalan tol, hutama karya, trans-sumatra

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top