Insentif Fiskal Tembakau Alternatif Butuh Kajian Komprehensif

Usulan pemberian insentif fiskal bagi produk tembakau alternatif dinilai membutuhkan waktu untuk direalisasikan lantaran perlu kajian yang lebih komprehensif.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 10 September 2019  |  16:03 WIB
Insentif Fiskal Tembakau Alternatif Butuh Kajian Komprehensif
Petani menjemur tembakau rajangan. - ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – Usulan pemberian insentif fiskal bagi produk tembakau alternatif dinilai membutuhkan waktu untuk direalisasikan lantaran perlu kajian yang lebih komprehensif.

Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim mengatakan bahwa kajian itu perlu dilakukan untuk menentukan produk yang dikategorikan sebagai tembakau alternatif.

“Perlu dipelajari dulu, apa yang dimaksud dengan tembakau alternatif,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (10/9/2019).

Abdul mengatakan pengenaan insentif pajak pun perlu kajian mendalam. Apalagi, kebijakan itu bisa berujung perdebatan panjang meski produk yang diberi kemudahan merupakan tembakau dengan kadar jauh lebih rendah dari biasanya.

Dia menilai butuh waktu guna membahas usulan tersebut, khususnya dengan instansi terkait.

“Pemberian insentif fiskal untuk produk tembakau walaupun dengan kandungan bahan berbahaya yang lebih rendah akan menjadi perdebatan yang panjang,” katanya.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong pemerintah untuk memberikan insentif fiskal bagi produk tembakau alternatif. Indonesia dinilai dapat mengikuti sejumlah negara yang memberikan kebijakan itu bagi produk hasil pengembangan inovasi dan teknologi dari industri tembakau.

Sejumlah negara itu, Inggris, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru, sudah memberikan kebijakan serupa.

“Negara tersebut sudah memberikan insentif fiskal berupa tax reduction bagi industri yang memproduksi produk yang ramah lingkungan dan rendah risiko,” kata Direktur Program Indef Esther Sri Astuti, dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, beberapa hasil kajian ilmiah dari Public Health England, berkesimpulan bahwa produk tembakau alternatif, seperti tembakau yang dipanaskan, tidak menghasilkan TAR dan memiliki zat kimia berbahaya yang lebih rendah hingga 95% ketimbang rokok biasa.

“Kajian itu juga menyebutkan bahwa produk tembakau alternatif berhasil mengurangi jumlah perokok di beberapa negara,” katanya.

Esther tidak menampik bahwa saat ini pro dan kontra mengenai produk tembakau alternatif masih ramai. Namun, dia menilai kondisi itu menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat berbagai penelitian lokal berbasis ilmiah untuk produk tembakau.

Melalui insentif fiskal, katanya, industri rokok akan terpacu mengembangkan riset dan produk tembakau berisiko rendah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri tembakau

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top