Produksi Minuman Ringan Beri Sinyal Cerah

Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) menyatakan realisasi produksi pada semester i/2019 menunjukkan sinyal cerah. Adapun, asosiasi memprediksi produksi hingga akhir tahun akan lebih tinggi dari relisasi pertumbuhan tahun lalu.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 03 September 2019  |  23:00 WIB
Produksi Minuman Ringan Beri Sinyal Cerah
Pekerja mengemas produk minuman kopi serbuk di pabrik produk hilir PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, Banaran, Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (31/7). - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) menyatakan realisasi produksi pada semester i/2019 menunjukkan sinyal positif. Adapun, asosiasi memprediksi produksi hingga akhir tahun akan lebih tinggi dari relisasi pertumbuhan tahun lalu.

Ketua AsrimTriyono Pridjosoesilo mengatakan produksi minuman ringan pada semester I/2019 tumbuh tipis 2%. Namun demikian, Triyono berpendapat pertumbuhan tersebut merupakan sinyal positif bagi industri minuman nasional.

“Semester I/2018 itu kami minus [produksinya] kalau tidak salah, maka ada perbaikan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (3/9/2018).

Triyono menilai kenaikan produksi pad semster I/2019 disebabkan oleh dua hal. Pertama, para pelaku industri minuman ringan telah dapat beradaptasi dengan perubahan pasar lokal. Menurutnya, kini para pelaku industri mulai mengaitkan kegiatan distribusi dengan promo pada industri pariwisata.

Selain itu, Triyono melihat kegiatan pemilihan kursi eksekutif yang berjalan relatif aman membuat konsumen terdorong mengeluarkan dan lebih untuk konsumsi minuman ringan. “Walaupun pemilu tidak mendorong konsumsi yang tinggi, rasa aman membuat mereka mau spend.

Triyono menambahkan peningkatan produksi tersebut akan terus terjadi pada Juli lantaran momentum lebaran. Namun demikian, produksi minuman ringan diperkirakan akan menurun pada Agustus seiring dengan menurunnya Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia ke level 40,0.

Menurutnya, produksi minuman ringan hingga akhir tahun dapat tumbuh 3%--4%. Triyono menilai proyeksi tersebut didorong oleh insentif yang diberikan pemerintah kepada industri dan masyarakat seperti insentif pada pelatihan, insentif pada kegiatan penelitian, dan peningkatan dana desa.

Triyono menilai ketiga hal tersebut dapat membuat daya beli masyarakat bawah naik. Alhasil, serapan minuman ringan di pasar lokal akan meningkat. “Karena konsumen kami sebagian besar [memiliki social economy status] C dan D,” katanya.

Triyono mengatakan variasi minuman ringan akan semakin banyak pada masa mendatang kendati perilaku konsumen yang semakin selektif. Di sisi lain, Triyono melihat kategori minuman ringan susu tumbuh stabil saat varian minuman ringan kebanyakan fluktuatif pada semester I/2019. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen yang mulai mengaitkan minuman ringan dengan fungsi lain selain pelepas dahaga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri minuman

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top