Target Serapan 2019 Terancam Tak Tercapai, Bulog Kukuh Tak Impor Beras

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memprediksi target serapan beras sebesar 1,8 juta ton kemungkinan tidak akan terealisasi hingga akhir tahun ini.  
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 02 September 2019  |  17:48 WIB
Target Serapan 2019 Terancam Tak Tercapai, Bulog Kukuh Tak Impor Beras
Pekerja mengangkut stok beras Bulog untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Gudang Sub-Divre Bulog Serang, di Serang, Banten, Jumat (10/5/2019). - ANTARA/Asep Fathulrahman

Bisnis.com, JAKARTA — Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memprediksi target serapan beras 2019 sejumlah 1,8 juta ton tidak akan terealisasi hingga akhir tahun ini.  

Direktur Pengadaan Bulog Bachtiar menyebut target serapan beras tahun ini kemungkinan hanya terealisasi sebesar 1,5 juta ton lantaran kapasitas penyerapan harian Bulog masih jauh dari harapan awal sebesar 8.000—10.000 ton.

Adapun, sampai dengan 30 Agustus 2019, realisasi pengadaan domestik beras Bulog baru mencapai 959.966 ton.

Dia menjelaskan hasil panen gadu tahun ini secara keseluruhan  tidak lebih baik dibandingkan dengan musim panen sebelumnya. Pasalnya, terdapat penurunan luas lahan yang dipanen sebesar 500.000 hektare (ha) akibat gagal panen atau puso.

“Saat ini [serapan] per hari 3.800 ton, kadang 3.700 ton, untuk Minggu mungkin berkurang karena petani tidak bekerja sepanjang hari, tetapi kita harapkan masih bisa ambil 500.000 ton [hingga akhir tahun ini],” kata Bachtiar ketika ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (2/9/2019).

Walaupun demikian, Bachtiar menilai kondisi tersebut secara umum masih aman lantaran serapan harian jumlahnya masih kurang dari yang digelontorkan ke pasar melalui kegiatan operasi pasar (OP) ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) setiap harinya sebesar 3.000 ton.

Selain itu, stok beras yang ada di gudang Bulog di seluruh Indonesia masih sebanyak 2,37 juta ton yang terdiri dari 2,2 juta ton cadangan beras pemerintah (CBP) dan 150.000 beras komersial.

“Masih aman, karena cadangan masih cukup, pokoknya enggak perlu impor, kita harus pertimbangkan hilir juga, jangan sampai nanti turun mutu [karena stok menumpuk],” tegasnya.

Saat ini stok beras yang dimiliki oleh Bulog sebagian besar telah disimpan selama lebih dari 1 tahun. Dikhawatirkan, apabila stok terus menerus bertambah akan berpengaruh pada penurunan mutu beras.

Lebih lanjut, Bachtiar menjelaskan penyerapan beras sebesar 500.000 ton sampai dengan akhir tahun ini bisa terealisasi sepenuhnya. Pasalnya, sejumlah daerah sentra produksi baik di Jawa maupun luar Jawa masih memasuki masa panen.

“Jawa Tengah masih panen [contohnya] di Purowdadi, Grobogan, di Jawa Timur juga masih, Sulawesi Selatan masih bisa ratusan ribu ton [hasil panen],” ungkap Bachtiar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bulog, Harga Beras, Beras Bulog, impor beras

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top