Pemerintah Yakin Investasi Bakal Tumbuh Lebih Baik Tahun 2020

Pemerintah meyakini pertumbuhan investasi atau pembentukan modal domestik bruto (PMTB) bakal tumbuh tahun depan, meski tahun ini performanya cenderung stagnan.
Muhamad Wildan
Muhamad Wildan - Bisnis.com 30 Agustus 2019  |  12:19 WIB
Pemerintah Yakin Investasi Bakal Tumbuh Lebih Baik Tahun 2020
Sejumlah pekerja menurunkan peti kemas di pelabuhan peti kemas Pelindo III cabang Lembar, Gerung, Lombok Barat, NTB, Selasa (22/10). Menurut data Pelindo III Cabang Lembar arus petikemas yang melalui Pelabuhan Lembar dalam dalam beberapa tahun terakhir mengalamikenaikan di tahun 2012 sebesar 15.181 boks sedangkan pada 2011 arus petikemas sebanyak 11.504 boks. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah meyakini pertumbuhan investasi atau pembentukan modal domestik bruto (PMTB) bakal tumbuh tahun depan atau 2020, meski tahun ini performanya cenderung stagnan.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan dengan adanya 25 proyek investasi senilai Rp290,6 triliun yang telah memperoleh tax holiday, dapat dipastikan pertumbuhan PMTB tahun depan bakal lebih semarak dibandingkan dengan tahun ini.

"Nanti harapannya realisasinya bisa tahun depan, itu sumber pertumbuhan pertama," ujar Iskandar kepada Bisnis, Kamis (29/8/2019).

Lebih lanjut, petumbuhan PMTB pada 2020 diproyeksikan bakal sejalan dengan pertumbuhan PMTB per semester I/2018 yang berhasil tumbuh di angka 6,88 persen (yoy).

Hal ini ditambah lagi dengan fasilitas super deduction tax yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah melalui PP No. 45/2019 dan juga PP terkait investment allowance yang bakal rampung tahun ini.

Seluruh insentif yang telah dan akan digelontorkan bakal terasa dampaknya terhadap perekonomian dan pertumbuhan PMTB pada tahun depan.

Merujuk pada data pertumbuhan ekonomi terakhir yakni pada kuartal II/2019, pertumbuhan PMTB masih jauh dari yang diharapkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan PMTB per kuartal II/2019 masih mencapai 5,01 persen  (yoy), lebih rendah dari kuartal II/2018 yang mencapai 5,85 persen (yoy).

Perbandingan pertumbuhan PMTB antara semester I/2019 dan semester I/2018 menunjukkan selisih yang lebih besar. Pertumbuhan PMTB per semester I/2018 mampu mencapai 6,88 persen (yoy), sedangkan per semester I/2019 hanya tumbuh 5,02 persen  (yoy).

Hal ini pun sempat dikeluhkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang berharap pertumbuhan PMTB bisa sejalan dengan capital inflow menuju ekuitas dan surat utang yang meningkat pasca Pemilu 2019.

Dalam asumsi pertumbuhan ekonomi yang tertuang dalam RAPBN 2020, pemerintah mematok pertumbuhan PMTB di angka 6% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan outlook pertumbuhan PMTB 2019 yang mencapai 5,7 persen (yoy).

Kebutuhan investasi pun meningkat dari Rp5.220 triliun pada 2019 menjadi Rp5.668,1 pada 2020. Dengan ini, kebutuhan investasi pada 2020 meningkat 8,46 persen (yoy) dibandingkan dengan tahun 2019.

Merujuk pada Nota Keuangan RAPBN 2020, kebutuhan investasi sebesar Rp5.668,1 triliun tersebut bakal dipenuhi oleh sektor perbankan dengan kontribusi 10,2 persen disusul oleh pasar modal 3,2 persen.

Investasi yang bersumber dari capital expenditure BUMN juga ditargetkan tumbuh 8,5 persen dibandingkan dengan 2019.

Secara nominal, kebutuhan investasi 2020 mayoritas bakal dipenuhi oleh swasta dengan investasi sebesar Rp3.852,3 triliun, disusul oleh BUMN dan penanaman modal asing (PMA) yang masing-masing sebesar Rp572,5 triliun dan Rp524,7 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, ekonomi makro

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top