DUGAAN DUMPING: RI Selidiki Baja Lapis Aluminium Seng Asal China & Vietnam

Komite Antidumping Indonesia (Kadi) memulai penyelidikan antidumping atas produk impor baja lapis aluminium seng (BJLAS) asal China dan Vietnam.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  17:01 WIB
DUGAAN DUMPING: RI Selidiki Baja Lapis Aluminium Seng Asal China & Vietnam
Industri baja - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Komite Antidumping Indonesia (Kadi) memulai penyelidikan antidumping atas produk impor baja lapis aluminium seng (BJLAS) asal China dan Vietnam.

Ketua Kadi Bachrul Chairi menjabarkan, produk yang diselidiki memiliki kode HS atau pos tarif 7210.61.11, 7212.50.23, 7212.50.24, 7212.50.29, 7225.99.90, 7226.99.19 dan 7226.99.99. Penyilidikan tersebut dimulai pada Senin (26/8/2019).

"Kadi telah menyampaikan informasi terkait dimulainya penyelidikan tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti industri dalam negeri, importir, eksportir/produsen, serta perwakilan pemerintah negara yang dituduh,” jelasnya dalam siaran pers, Rabu (28/8/2019).

Dia mengatakan bagi pihak yang berkepentingan diberikan kesempatan untuk menyampaikan tambahan informasi, tanggapan secara tertulis, dan/atau permintaan dengar pendapat (hearing) yang berkaitan dengan penyelidikan dan kerugian.

Adapun, dasar hukum penyelidikan yaitu Pasal lima Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2011 tentang Tindakan Antidumping, Tindakan Imbalan, dan Tindakan Pengamanan Perdagangan, Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 76/M-DAG/PER/12/2012 tentang Tata Cara Penyelidikan dalam Rangka Pengenaan Tindakan Antidumping dan Tindakan Imbalan, dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 53/M-DAG/PER/9/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 76/M-DAG/PER/12/2012.

Sekadar catatan, selama 3 tahun terakhir, total impor Indonesia untuk produk BJLAS asal China dan Vietnam mengalami tren peningkatan sebesar 27%.

Pada 2018 total impor Indonesia dari kedua negara tertuduh tercatat sebesar 748.400 ton, meningkat dari 2016 yang tercatat sebesar 463.375 ton

Sementara itu, pangsa impor dari kedua negara tersebut memiliki nilai dominan sebesar 90% dari total impor BJLAS indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja, dumping, antidumping, bea masuk anti dumping

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top