Virus Flu Babi Afrika Meluas, Indonesia Siap Perbesar Pangsa Ekspor

Indonesia tengah menjajaki peluang untuk memperluas pasar ekspor babi seiring meluasnya persebaran virus African Swine Fever (ASF) alias flu babi Afrika di sejumlah negara produsen. 
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  09:59 WIB
Virus Flu Babi Afrika Meluas, Indonesia Siap Perbesar Pangsa Ekspor
Peternakan babi di Denpasar, Bali, Senin (13/3). - Antara/Wira Suryantala

Bisnis.com, JAKARTA Indonesia tengah menjajaki peluang untuk memperbesar pangsa pasar ekspor babi seiring meluasnya persebaran virus African Swine Fever (ASF) alias flu babi Afrika di sejumlah negara produsen. 

Sejauh ini, kasus kematian akibat virus tersebut belum ditemukan di Indonesia meski telah ditemukan di negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja.

"Peluang untuk memperluas ekspor sangat besar. Kami sedang dalam upaya ke arah itu," kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Fini Murfiani dalam pesan tertulis kepada Bisnis, Kamis (22/8/2019).

Fini tak merinci negara mana saja yang masuk dalam daftar penjajakan ekspor. Namun, ia tak memungkiri terdapat peluang ke negara-negara yang tengah menghadapi koreksi produksi akibat wabah virus flu babi Afrika.

"Produksi babi sendiri tentunya surplus. Negara tujuan ekspor mana pun, selama ada peluang kami akan kejar," sambung Fini.

Pasar utama ekspor babi baik dalam bentuk hidup maupun daging sendiri masih dipegang Singapura. Kementerian Pertanian mencatat nilai ekspor babi ke negara tersebut sejak 2014 sampai semester I/2019 mencapai nilai Rp3,04 triliun. Sementara nilai total ekspor babi hidup yang telah dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai Rp4,31 triliun (kurs Rp14.000/US$) sepanjang sepanjang 2013-2017.

Dengan lebih dari 80 persen penduduk yang menganut agama Islam, daging babi memang bukan sumber protein utama di Indonesia. Rata-rata konsumsi daging babi, menurut data BPS, hanya berkisar di angka 0,22 kg per kapita per tahun selama periode 2013-2017 dengan konsumsi tertinggi pada 2017 di angka 0,26 kg per kapita per tahun.

Terlepas dari statistik tersebut, konsumsi daging babi tak bisa dibilang sedikit. Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali Ketut Hari Suyasa menyebutkan konsumsi daging babi juga merupakan bagian dari budaya yang tak terpisah dari masyarakat Bali. 

Hal ini terlihat pula pada tren konsumsi di sejumlah provinsi sentra produksi daging babi seperti Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Rencana untuk memperluas pasar ekspor pun disambut baik oleh Hari selaku peternak. Kendati demikian, ia mengharapkan pemerintah dapat memberi bimbingan lebih kepada peternak rakyat agar manfaat perluasan pangsa ekspor tersebut tak hanya dirasakan segelintir pelaku usaha.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan, babi

Editor : Lucky Leonard
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top