Kerek Daya Saing, Industri Manufaktur Perlu Terobosan Baru

Inovasi melalui pemanfaatan teknologi dan efisiensi produksi menjadi kunci daya saing industri manufaktur dalam negeri.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 22 Agustus 2019  |  17:14 WIB
Kerek Daya Saing, Industri Manufaktur Perlu Terobosan Baru
ilustrasi. - GPP

Bisnis.com, JAKARTA — Inovasi melalui pemanfaatan teknologi dan efisiensi produksi menjadi kunci daya saing industri manufaktur dalam negeri.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bertekad untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai negara yang maju dan sejahtera. Guna mencapai sasaran tersebut, langkah akselerasi yang dilakukan membutuhkan kontribusi dari sektor industri manufaktur.

Oleh karena itu, industri manufaktur terus didorong untuk memperbanyak terobosan di tengah semakin ketatnya persaingan usaha. Inovasi melalui pemanfaatan teknologi dan efisiensi proses produksi akan menjadi kunci bagi penguatan daya saing industri manufaktur di Indonesia.

“Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan perlu ada lompatan jauh untuk mendahului kemajuan bangsa lain menuju visi Indonesia Maju,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis (22/8/2019).

Airlangga menjelaskan Indonesia sudah punya peta jalan dalam kesiapan memasuki era industri 4.0 yang tertuang dalam Making Indonesia 4.0. Roadmap ini telah diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada April 2018 lalu.

Dengan peta jalan tersebut, Indonesia sudah mempunyai strategi ke depan dalam menghadapi era digitalisasi. Melaui roadmap tersebut, pemerintah mendukung upaya revitalisasi sektor manufaktur dan membangun ekonomi berbasis inovasi.

Adapun, teknologi yang sedang berkembang seiring bergulirnya industri 4.0, antara lain berupa artificial intelligence (AI), advanced robotic, internet of things (IoT), 3D Printing, dan augmented reality/virtual reality (AR/VR).

“Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas bagi sektor industri secara lebih efisien. Sehingga sektor industri akan terus berkontribusi besar pada ekonomi,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri masih memberikan kontribusi paling besar terhadap struktur produk domestik bruto (PDB) nasional pada kuartal II/2019 dengan capaian 19,52% (yoy). Adapun tiga sektor yang menopang pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada kuartal dua tahun ini, dan mampu melampaui pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 5,05%.

Sektor utama tersebut, yaitu industri tekstil dan pakaian jadi yang tumbuh hingga 20,71%, kemudian disusul industri kertas dan barang dari kertas, percetakan dan reproduksi media rekaman yang tumbuh mencapai 12,49%. Selanjutnya, industri makanan dan minuman tumbuh sebesar 7,99%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri manufaktur

Editor : Galih Kurniawan
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top