Bisnis Ayam Prospektif, PT Berdikari Bakal Tambah Peternakan Terintegrasi

PT Berdikari (Persero) bakal terus mengembangkan bisnis peternakan ayam terintegrasi lewat penambahan peternakan day old chick (DOC) parent stock (PS) menyusul kontribusi besar lini ini terhadap kinerja perseroan sepanjang semester I/2019.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  16:00 WIB
Bisnis Ayam Prospektif, PT Berdikari Bakal Tambah Peternakan Terintegrasi
Peternak menimbang ayam broiler jenis pedaging yang dijual murah seharga Rp8.000 per kilogram di sentra peternakan ayam broiler di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). - ANTARA/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA PT Berdikari (Persero) bakal terus mengembangkan bisnis peternakan ayam terintegrasi lewat penambahan peternakan day old chick (DOC) parent stock (PS) menyusul kontribusi besar lini ini terhadap kinerja perseroan sepanjang semester I/2019.

"Kami akan terus ekspansi di bisnis ayam dengan rencana membuka peternakan baru. Sekarang sudah ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten dengan model kemitraan," ujar Direktur Utama Berdikari Eko Taufik Wibowo kepada Bisnis, Rabu (14/8/2019).

Saat ini, Berdikari memiliki dua peternakan DOC grand parent stock (GPS). Kedua peternakan tersebut berlokasi di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Pasuruan, Jawa Timur, dengan populasi masing-masing sekitar 54.000 dan 36.000 ekor GPS. 

Adapun rata-rata produksi DOC PS untuk kedua peternakan tersebut mencapai 120.000 ekor setiap bulannya.

Selain peternakan DOC GPS, Berdikari tercatat telah memiliki dua farm DOC PS yang terletak di Sukabumi dan Medan dengan populasi masing-masing sekitar 25.000 ekor. Rencana penambahan peternakan DOC PS akan mengambil lokasi di Kabupaten Ciamis dengan kapasitas populasi sebanyak 25.000 ekor. 

Dari ketiga peternakan DOC PS tersebut, target produksi FS tiap bulan diperkirakan bisa mencapai sekitar 320.0000 ekor.

Eko menjelaskan bisnis peternakan ayam terintegrasi lewat pengembangan ternak baru induk ayam sendiri cukup menjanjikan terlepas dari gejolak harga ayam di sisi hilir yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu. Permintaan akan DOC ia sebut tak terganggu karena pengadaan DOC lewat impor masih diatur pemerintah dan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri.

"Secara hulu tidak ada perubahan seperti [adanya] pembatasan atau [perubahan] kuota. Pemerintah tetap memberi kuota impor GPS sekian [dengan jumlah tertenu] tiap tahunnya. Tahun ini sampai Agustus kami sudah impor 36.000 bibit GPS," papar Eko.

Dari segi kontribusi, Eko mengemukakan bisnis ayam masih menjadi penyumbang terbesar, sekitar 30 persen dari pendapatan sepanjang semester I/2019 yang mencapai Rp100 miliar. 

Adapun pada periode tersebut Berdikari telah mencatatkan laba sebesar Rp25 miliar atau 60,41 persen dari rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) 2019. Jika dibandingkan dengan laba semester I/2018 senilai Rp15 miliar, laba perusahaan mengalami peningkatan sebesar 82 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
berdikari, peternak ayam

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top