Ini Saran Peternak untuk Redam Gejolak Harga Ayam

Kebijakan pengendalian populasi ayam ras broiler lewat penarikan 30 persen telur tetas berumur 19 hari untuk day old chicken final stock selama 28 Juni-12 Juli lalu dinilai tak efektif untuk menjawab polemik harga ayam di tingkat peternak yang kerap fluktuatif.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  11:07 WIB
Ini Saran Peternak untuk Redam Gejolak Harga Ayam
Pedagang menyusun ayam potong di Pasar Modern, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (2/6/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA Kebijakan pengendalian populasi ayam ras broiler lewat penarikan 30 persen telur tetas berumur 19 hari untuk day old chicken final stock (DOC FS) dari mesin tetas (hatcher) selama 28 Juni-12 Juli lalu dinilai tak efektif untuk menjawab polemik harga ayam di tingkat peternak yang kerap fluktuatif.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Pardjuni yang turut berpartisipasi dalam aksi bagi-bagi ayam sebagai bentuk protes akan anjloknya harga beberapa waktu lalu, berpendapat sejatinya tak ada yang salah dengan kebijakan tersebut. Namun, ia menilai keputusan yang diambil usai peternak menderita kerugian dalam jumlah besar itu datang terlambat. 

Padahal, ihwal permintaan dan penawaran unggas sendiri merupakan hal yang ia klaim bisa diantisipasi.

"Sejak awal saya mengatakan meski ini langkah yang benar, tapi di sisi lain datang terlambat. Sebenarnya gampang untuk mengatasi ini asal semua pihak berkomitmen. Sekarang yang memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk mengendalikan [populasi] itu kan pemerintah. Seharusnya bisa," ujar Pardjuni kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Pardjuni mengemukakan pengawasan akan jumlah indukan ayam broiler, baik untuk kualitas FS maupun parent stock (PS), merupakan kunci untuk menjamin harga ayam yang stabil. Ia mengemukakan permintaan dan penawaran bisa dianalisis bahkan sekitar 55 hari mulai telur memasuki fase penetasan sampai dipanen.

Di tengah bayang-bayang harga yang suram pada September mendatang, Pardjuni bersama peternak lainnya pun sempat mengajukan usul agar pengendalian DOC FS dapat kembali dilakukan. Ia bahkan mengusulkan afkir dini pada 5 persen populasi PS ayam broiler di bawah usia 68 minggu demi menjamin pasokan yang tak berlebih untuk semester II.

"Jangan tanggung-tanggung di usia 68 minggu, majukan saja minimal 55 minggu. Dengan pemangkasan ini dapat dipastikan induknya berkurang sehingga bulan berikutnya lebih aman. Jika kita hanya memangkas FS itu sifatnya hanya sementara karena selalu ada induk yang bertelur setiap hari," sambungnya.

Adapun kebijakan pemerintah untuk memangkas produksi ayam broiler mulai memperlihatkan hasil pada pekan pertama Agustus. Kendati demikian, kalangan peternak mewanti-wanti bahwa koreksi harga berpeluang terulang pada September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternakan, peternak ayam

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top