Komunitas Konsumen Indonesia Gugat PLN, Desak Direksi Diganti

Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) melayangkan gugatan agar direksi dan komisari PT PLN (Persero) diganti, menyusul kejadian pemadaman listrik besar-besaran di DKI Jakarta dan Sebagian Jawa Barat serta Banten.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  19:37 WIB
Komunitas Konsumen Indonesia Gugat PLN, Desak Direksi Diganti
Suasana di Halte TransJakarta Harmoni saat pemadaman listrik di Jakarta, Minggu (4/8/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) melayangkan gugatan agar direksi dan komisari PT PLN (Persero) diganti, menyusul kejadian pemadaman listrik besar-besaran di DKI Jakarta dan Sebagian Jawa Barat serta Banten.

Melalui kuasa hukumnya, Winner Pasaribu dan Muhammad Ali Hasan, KKI mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap PT PLN (Persero) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (6/8/2019).

Gugatan tersebut telah teregistrasi di PN Jakarta Pusat dengan nomor 454/PDT.G/2019/PN.JKT.PST.

"PLN telah melakukan perbuatan melawan hukum karena tidak melaksanakan kewajiban hukumnya untuk menyediakan tenaga listrik yang memenuhi standar mutu dan keandalan yang berlaku serta memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada konsumen dan masyarakat," kata Ketua KKI David Tobing, dikutip dari Antara (6/8/2019).

Menurut David, gugatan ini bermula ketika terjadi pemadaman listrik oleh PLN secara serentak di daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten yang berlangsung sangat lama sejak Minggu (4/8/2019).

PLN menjelaskan pemadaman listrik tersebut disebabkan oleh padamnya dua Sirkuit Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTET) 500KV Ungaran-Pemalang, Jawa Tengah.

Merespons hal tersebut, David mengatakan bahwa dari berbagai informasi dan laporan yang diterima KKI, diketahui akibat pemadaman listrik oleh PLN dengan waktu yang sangat lama mengakibatkan masyarakat selaku konsumen tidak dapat menggunakan fasilitas transportasi publik seperti MRT maupun kereta listrik.

Selain itu, mengakibatkan matinya binatang peliharaan seperti ikan koi, terganggunya jaringan telepon dan internet hingga matinya freezer dan mengakibatkan air susu ibu (ASI) yang disimpan rusak serta kerugian-kerugian dalam bentuk lainnya.

"PLN juga telah melanggar hak subyektif konsumen yaitu hak untuk mendapat tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu dan keandalan yang baik sebagaimana ketentuan Pasal 29 ayat (1) huruf b UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan," katanya.

Dalam keterangan persnya, David juga menyayangkan pernyataan para pejabat PLN yang terkesan bercanda dan meremehkan hak-hak konsumen seperti meminta 'pelanggan untuk ikhlas atas pemadaman listrik' tersebut, 'meminta bantuan transformers untuk perbaikan', serta 'menyalahkan pohon' atas peristiwa pemadaman tersebut.

Menurut KKI, pernyataan PLN tersebut tidak patut dan tidak profesional serta menciderai perasaan konsumen.

"Pernyataan para pejabat PLN sangatlah tidak patut untuk diucapkan dalam kondisi di mana seharusnya PLN memberikan ganti kerugian atas pemadaman listrik yang terjadi akibat kesalahan PLN," kata David.

Dalam gugatan tersebut, selain menjadikan PLN sebagai Tergugat, KKI juga menjadikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai Tergugat II serta Menteri Energi dan Sumber daya Mineral (ESDM) sebagai Turut Tergugat.

Sementara itu, dalam petitumnya Komunitas Konsumen Indonesia antara lain menuntut hal-hal sebagai berikut :

  1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan PLN telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum.
  2. Menghukum PLN untuk mencabut pernyatannya dengan memuatnya di media cetak harian Kompas dan Bisnis Indonesia 1/2 (setengah halaman) mengenai tindakan PLN yang meminta keikhlasan konsumen, meminta pertolongan Transformers dan menyalahkan pohon atas pemadaman listrik yang terjadi.
  3. Memerintahkan Menteri BUMN untuk memberhentikan Direksi dan Komisaris PLN melalui Rapat Umum Pemegang Saham.
  4. Memerintahkan Menteri ESDM untuk mematuhi putusan perkara ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN

Sumber : Antara

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top