Gara-gara Blackout Jabodetabek, Industri Ritel Modern Rugi Rp200 Miliar Lebih

Pelaku industri ritel modern mengklaim kerugian senilai lebih dari Rp200 miliar akibat pemadaman listrik (blackout) di Jabodetabek kemarin, Minggu (4/8/2019).
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  17:15 WIB
Gara-gara Blackout Jabodetabek, Industri Ritel Modern Rugi Rp200 Miliar Lebih
Pusat perbelanjaan - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri ritel modern mengklaim kerugian senilai lebih dari Rp200 miliar akibat pemadaman listrik (blackout) di Jabodetabek kemarin, Minggu (4/8/2019).

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N. Mandey mengklaim taksiran kerugian tersebut didasari oleh perhitungan di 82 pusat perbelanjaan dan lebih dari 2.500 toko ritel modern swakelola (standalone) di Jakarta.

“PLN seyogianya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen dan masyarakat pun tetap bisa mendapat haknya sebagai konsumen,” tegasnya, Senin (5/8/2019).

Terlebih, sebutnya, kenyamanan masyarakat juga terganggu karena fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan tidak bisa berfungsi normal, seperti jaringan pembayaran elektronik, kualitas produk yang bisa menurun, dan sebagainya.

Belum lagi, sambung Roy, blackout terjadi pada hari Minggu atau saat sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan.

“Potensi kehilangan penjualan terlihat betul, karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanjanya,” ujarnya lagi.

 Terkait dengan pembengkakan biaya operasional selama blackout, Roy mengatakan hal itu terjadi lantaran beberapa gerai terpaksa menggunakan genset diesel agar bisa tetap buka melayani masyarakat.

“Demi kenyamanan konsumen, kami menggunakan genset diesel berbahan bakar solar yang tentu berimbas pada naiknya biaya operasional, dan itu seharusnya tidak perlu kami keluarkan” lanjutnya. 

Lebih lanjut, dia berpendapat PLN sebagai satu-satunya perusahaan yang mensuplai listrik seharusnya bisa bertindak lebih cepat dan tanggap apabila ada gangguan gardu listrik, seperti yang diberitakan.

 “Kami setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam ini, back up plan yang reaktif terhadap gangguan dan contigency plan yang terencana” terangnya.

Apalagi, tegasnya, pemadaman listrik yang berlangsung lama dan mencakup area yang cukup luas berdampak pada pelaku usaha dan masyarakat sebagai pelanggan PLN.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top