INVESTASI JALAN TOL : Calon Investor Asing Punya 3 Opsi

Menurut Badan Pengatur Jalan Tol, masih banyak investor asing yang takut mengambil risiko investasi berbasis proyek seperti pada proyek jalan tol.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 28 Juli 2019  |  17:20 WIB
INVESTASI JALAN TOL : Calon Investor Asing Punya 3 Opsi
Kendaraan pemudik melintas di jalan tol Jombang-Mojokerto (Jomo) Tembelang, Jombang, Jawa Timur, Senin (3/6/2019). - ANTARA/Syaiful Arif

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melakukan promosi peluang investasi di sektor jalan tol ke investor asing di Singapura. Investor disebut bisa berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung.

Kepala BPJT Danang Parikesit mengatakan bahwa Singapura memiliki posisi penting bagi perkembangan investasi asing di Indonesia. Hal ini tercermin dari posisi Singapura sebagai negara asal penanaman modal asing paling besar di Indonesia hingga kuartal pertama 2019. Untuk itu dalam ajang

Posisi Singapura di bidang investasi makin strategis, mengingat Singapura masih merupakan negara dengan investasi terbesar di Indonesia hingga triwulan pertama tahun ini.

Dalam ajang The 2nd Indonesia Investment Day (IID) di Singapura, BPJT memaparkan peluang investasi jalan tol yang bisa digarap investor asing.

"Singapura juga kerap dijadikan referensi dari berbagai perwakilan perusahaan multinasional yang akan mengembangkan usaha di Kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia," ujarnya melalui siaran pers Sabtu (27/7/2019).

Danang mengakui bahwa masih banyak investor asing yang takut mengambil risiko investasi berbasis proyek seperti pada proyek jalan tol. Namun, calon investor mempunyai tiga pilihan skema yang bisa dipertimbangkan untuk memulai berinvestasi di bisnis jalan tol.

Pertama, calon investor bisa masuk melalui pasar modal yang mana perusahaan tol sudah menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan catatan Bisnis, saat ini sedikitnya dua perusahaan jalan tol dikendalikan oleh investor asing, yaitu PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) dan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP).

Berdasarkan laporan META ke BEI, per 10 Juli 2019, pemegang saham pengendali META adalah PT Metro Pacific Tollways Indonesia (MPTI) dengan porsi saham 74,24 persen. MPTI adalah anak usaha perusahaan tol terbesar di Filipina, Metro Pacific Tollways Corporation.

Sementara itu, pemegang saham terbesar CMNP adalah BP2S/SG BNP Paribas Wealth Management Singapore Branch.

Dalam laporan ke BEI, entitas terebut digolongkan sebagai investor asing dengan porsi kepemilikan 47,16 persen.

Kedua, investor juga bisa bergabung ke dalam konsorsium badan usaha jalan tol.

Danang menyebutkan bahwa pihaknya bisa memfasilitasi investor yang tertarik menanamkan yang lewat skema ini.

"Tentu saja hal ini aman bagi investor asing mengingat BUJT [badan usaha jalan tol] memahami betul proses bisnis jalan tol sehingga mengurangi risiko yang harus dihadapi oleh investor asing,” jelas Danang.

Dari 33 perusahaan jalan tol yang ada di Indonesia, sedikitnya ada tiga investor asing yang sudah bercokol. Investor asal Malaysia, CMS Works International Limited sudah berpartisipasi di PT Jasamarga Cengkareng Kunciran dengan porsi saham sebanyak 21 persen.

Di ruas Tangerang—Merak, Capital Holding Investment Limited memegang 15,69 persen saham PT Marga Mandalasakti.

Adapun, perusahaan investasi CapAsia mengempit 25 persen saham PT Margautama Nusantara (MUN). MUN merupakan subholding bisnis jalan tol META dengan portofolio empat ruas jalan tol.

Danang menerangkan, opsi ketiga yang bisa ditempuh calon investor yakni penyertaan langsung dengan menjadi pimpinan konsorsium. Skema ini merupakan yang paling sarat risiko dibandingkan dengan dua opsi lain.

“Sudah ada beberapa perusahaan asing yang melakukan hal ini, biasanya adalah perusahaan yang awalnya memang bergerak di bisnis jalan tol,” kata Danang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jalan tol, investasi asing

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top