Pengoperasian Ulang Rute Bitung--Davao Masih Tunggu Insentif

Rencana pengaktifan kembali rute kapal roll on-roll off Bitung-Davao, Filipina menunggu kepastian soal insentif untuk memangkas biaya operasional pelayaran yang sempat dikeluhkan operator sebelumnya.  
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  20:37 WIB
Pengoperasian Ulang Rute Bitung--Davao Masih Tunggu Insentif
Kapal Super Shuttle Roro 12 berlayar dalam peluncuran pelayaran perdana rute laut Roll-on Roll-off (Ro-Ro) Davao/General Santos-Bitung, Pelabuhan Kudos Davao, Filipina, Minggu (30/4). Perjalanan laut rute Bitung-Davao hanya membutuhkan 1-2 hari sehingga diharapkan dapat meningkatkan kerja sama perdagangan Indonesia dan Filipina. ANTARA FOTO - Rosa Panggabean

Bisnis.com, JAKARTA -- Rencana pengaktifan kembali rute kapal roll on-roll off Bitung-Davao, Filipina menunggu kepastian soal insentif untuk memangkas biaya operasional pelayaran yang sempat dikeluhkan operator sebelumnya.  

Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Farid Padang mengatakan pihaknya telah bersedia menambah diskon tarif kepelabuhanan dari 30 persen menjadi 50 persen dari tarif normal.

Sementara itu, Pemprov Sulawesi Utara berjanji akan memberikan pelonggaran kewajiban retribusi daerah terhadap BBM yang dipasok ke kapal operator. Pelindo IV masih menunggu realisasi janji pemda. 

"Insyaallah dikasih nol persen," katanya saat dihubungi Bisnis.com, Kamis (18/7/2019).

Pada pengoperasian sebelumnya, komoditas yang diangkut kurang karena tidak ada diferensiasi produk antara Sulawesi Utara dan Mindanao. 

Kedua wilayah sama-sama menghasilkan kelapa dan ikan. Kondisi itu membuat biaya operasional tinggi sehingga kapal MV Super Shuttle Roro 12 milik Asian Marine Transportation Corporation berhenti beroperasi hanya 5 bulan setelah pelayaran perdana rute Bitung-Davao. 

Berbeda dengan sebelumnya, rute Bitung-Davao akan diekstensifikasi ke Vietnam untuk menambah volume muatan.

Farid menyebutkan, Bitung akan menjadi pusat konsolidasi kargo kopi dari pelabuhan-pelabuhan pendukung di sekitar, untuk selanjutnya diekspor ke Filipina dan Vietnam. Komoditas kelapa dan ikan dari Bumi Nyiur Melambai pun akan diolah agar berbeda dengan produk Davao. 

Sebaliknya, dari Vietnam, produk-produk rumah tangga dan elektronik akan dibawa ke Bitung. 

"Davao membuka jalan untuk mendukung transshipment ke pelabuhan lain. Jadi, nanti kita tidak harus mengirim [barang] ke Vietnam melalui Makassar," kata Farid.

Mengenai operator, dia mengatakan Asian Marine Transportation Corporation kemungkinan akan terlibat kembali. Selain itu, ada operator dari Vietnam yang akan ikut serta. 

"Pada prinsipnya kami ingin operator tidak hanya satu supaya rutenya bisa berputar, jadi saling mengisi. Kalau hanya satu, nanti dia merasa rugi, enggak mau jalan lagi," jelasnya.

Sebelumnya, banyak pihak berharap pelayaran rute Bitung-Davao mampu meningkatkan kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Filipina, membantu mengembangkan potensi ekonomi, serta meningkatkan pariwisata dan investasi daerah kedua belah pihak.

Rute itu adalah implementasi dari Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) yang diadopsi pada Deklarasi Hanoi Oktober 2010 yang kemudian menemukan bentuk konkretnya dalam konsep nautical highway system atau Ro-ro Dumai-Malaka, bersamaan dengan rute Belawan-Penang (Malaysia)-Phuket (Thailand), dan Bitung-Davao/General Santos (Filipina).

Rute Bitung-Davao lahir duluan pada April 2017, diresmikan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Kudos Port, Davao City. 

Trayek itu semula dipandang sangat kompetitif karena memangkas drastis waktu dan jarak pengapalan barang dan penumpang. Rute Bitung-Davao hanya membutuhkan waktu tempuh 1-2 hari, jauh lebih singkat dibandingkan dengan rute Bitung-Surabaya/Jakarta- Manila-Davao yang membutuhkan 1-2 pekan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelindo iv, bitung

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top