NGOBROL EKONOMI: Adaro, Thohir Family & Masa Depan Indonesia

Boy Thohir bermimpi untuk menggeser bisnis batubara Adaro dari thermal coal ke coking coal. Lalu bergeser dari sekadar penyediaan listrik ke penyediaan besi baja untuk pembangunan nasional.
Arif Budisusilo
Arif Budisusilo - Bisnis.com 12 Juli 2019  |  09:13 WIB
NGOBROL EKONOMI: Adaro, Thohir Family & Masa Depan Indonesia
Garibaldi 'Boy' Thohir saat berkunjung ke CLP Power Plant di Kowloon, Hong Kong, 8 Juli 2019 - Bisnis/Arif Budisusilo

Beberapa pekan terakhir, nama Adaro kembali diperbincangkan. Ini lantaran publikasi Global Witness tentang tudingan bahwa Adaro melakukan pelanggaran pajak.

Namun, Garibaldi Thohir, CEO Adaro Energy Tbk, tidak mau ambil pusing. Dia bilang, perusahaannya tidak melakukan seperti apa yang dituduhkan.

Apalagi perusahaan produsen batubara itu berstatus terbuka, yang sahamnya diperdagangkan di lantai bursa. Semua operasi perusahaan transparan.

"Dengan regulator sudah done karena kami comply dengan peraturan," ujar Boy, panggilan akrab Garibaldi Thohir, saat saya tanya soal isu pajak itu.

Saya berkesempatan ngobrol dengan Boy cukup lama di bandara Chek Lap Kok, Selasa (9/7/2019), sebelum naik pesawat kembali ke Jakarta, selepas kunjungan ke Hong-Kong dan Macau, 7-9 Juli lalu.

Ke Hong Kong, Boy mengajak sejumlah pimpinan media dari Indonesia melihat dari dekat salah satu power plant milik China Light and Power (CLP), yakni Castle Peak Power Station. PLTU milik CLP, yang didirikan keluarga Sir Kadoorie, itu berkapasitas 4.100 MW, berlokasi di Tuen Mun, Kowloon.

Dari Hong Kong ke Macau, kami menjajal jembatan laut 55 km yang kini diklaim terpanjang di dunia, yang di tengahnya tembus bawah laut melalui terowongan sepanjang sekitar 7 km.

Boy mengunjungi power plant milik CLP, karena Adaro adalah salah satu pemasok utama untuk kebutuhan bahan bakar dari batubara.

Kebutuhan batubara CLP mencapai 6,5 juta ton per tahun, di mana Adaro memasok 2,5 juta ton atau sekitar 35%. Ekspor batubara Adaro ke Hong Kong mencapai 3,5 juta ton setiap tahun, di mana 1 juta ton lainnya adalah suplai untuk power plant lainnya, yakni Hong Kong Electric.

Adaro dan CLP telah memiliki sejarah relationship yang cukup lama. Lebih dari 20 tahun.

Batubara Adaro dipilih karena kualitasnya memenuhi kriteria standard lingkungan Hong Kong yang begitu ketat. Kualitas batubara Adaro dinilai spesial, karena memiliki kandungan sulfur yang rendah.

Secara keseluruhan, produksi batubara Adaro dalam 1 tahun mencapai 56 juta ton, di mana 40 juta ton atau 70% ekspor ke 17 negara. Ekspor terbesar ke Malaysia, lalu Jepang, Hong Kong, China dan Spanyol.

Selain mengekspor batubara ke pasar dunia Adaro juga menggarap pasar di dalam negeri.

Perusahaan itu juga mulai diversifikasi usaha menjadi pemasok energi. Melalui partnership dengan mitra dari Jepang, Adaro masuk ke bisnis power plant alias pembangkit listrik di Batang.

Kini, progress pembangunan power plant di Batang sudah mendekati 70%. Pada tahun depan, diharapkan proyek itu sudah selesai dan commissioning pada awal 2021.

Dengan kapasitas 2 x 1.000 MW, PLTU Batang akan menjadi salah satu power plant terbesar di Jawa Tengah.

Ia bakal menjadi landmark baru kawasan Batang dan menambah titik pertumbuhan ekonomi baru di wilayah pesisir utara Jawa Tengah itu.

Kini, Adaro juga mulai getol mengembangkan produksi coking coal, bukan cuma thermal coal. Kalau thermal coal kebanyakan dikenal sebagai bahan bakar, maka coking coal atau batubara kokas dikenal sebagai batubara metalurgi.

Batubara jenis ini digunakan untuk membuat kokas, salah satu bahan baku yang tak tergantikan untuk produksi baja.

Saat ini, produksi coking coal Adaro sudah mencapai 7 juta ton per tahun. Sekitar 1 juta ton dihasilkan dari tambang Adaro Met Coal (AMC) di Kalimantan, sedangkan 6 juta ton dihasilkan dari tambang Kestrel di Australia. Kestrel Coal Mine adalah tambang yang semula milik Rio Tinto,  sejak  tahun lalu dibeli oleh Adaro.

Dengan memproduksi lebih banyak coking coal, kocek Adaro terus bertambah tebal. Pasalnya, harga coking coal nyaris tiga kali lipat harga thermal coal. Saat ini, harga coking coal mencapai US$220 per ton, sedangkan thermal coal ‘cuma’ sekitar US$70  per ton.

Menurut Boy, Adaro berupaya untuk terus menggenjot produksi coking coal dari tambang AMC dan Kestrel masing-masing menjadi 10 juta ton per tahun dalam beberapa tahun ke depan.

Dengan terus bertambahnya produksi coking coal yang ditargetkan bisa menembus 20 juta ton dalam beberapa tahun ke depan, jelas Adaro menjadi salah satu pemain batubara dunia yang tidak bisa dianggap enteng.

Jika angka produksi itu tercapai, Kocek Adaro dari coking coal saja, apabila mengacu harga saat ini, akan mencapai US$4 miliar lebih per tahun. Belum tambahan revenue dari thermal coal yang mencapai 50 juta ton lebih.

***

 

Di tengah keberhasilan bisnisnya itu, apakah masih ada mimpi Adaro yang belum kesampaian? “Wah, banyak,” begitu kata Boy saat saya tanyakan mimpi-mimpinya.

Sambil berjalan menyusuri gate demi gate di bandara Chek Lap Kok, Boy bercerita tentang mimpinya itu.

Boy melihat ada peluang lebih lanjut dari bisnis coking coal yang digelutinya.

Boy berfikir simpel saja. Bagi Boy, tidak ada negara maju di dunia, yang tadinya adalah negara agraris, tidak menjelma menjadi negara industri terlebih dahulu.

Dia melihat, Indonesia akan sulit menjelma menjadi negara industri, bila tidak punya pabrik baja yang mumpuni. “Di situlah nanti saya akan berkontribusi,” katanya.

Boy menjelaskan, tidak mungkin ada baja kalau tidak ada coking coal. Karena melihat peluang itu, ujarnya, Adaro ingin masuki ke sana, seperti halnya masuk ke bisnis power plant di Batang. “Kalau enggak, saya enak-enak saja, jual-jual saja itu batubara,” tegas Boy.

Ringkasnya, ada dua mimpi Boy dalam 10 tahun ke depan. Menggeser bisnis batubara Adaro dari thermal coal ke coking coal. Lalu bergeser dari sekadar penyediaan listrik ke penyediaan besi baja untuk pembangunan nasional.

Artinya, tidak menutup kemungkinan, Adaro akan membangun industri baja sendiri. Dengan memperbesar kapasitas produksi coking coal, akan memudahkan jalan menuju pemain steel manufacturing.

Bisa jadi jalannya adalah melalui partnership dengan industri baja existing, yang sekarang gencar investasi di Indonesia, termasuk dari Korea maupun China.

Bisa saja, Boy mempraktikkan skema partnership seperti saat membangun power plant di Batang, dengan partisipasi saham sedikitnya 30%. Rencana itu sudah on progress.Karena sudah dipikirin cukup lama, sejak 5-7 tahun yang lalu.

Itulah, menurut dia, salah satu cara Adaro berkontribusi untuk Indonesia.

 

***

Boy Thohir adalah kakak Erick Thohir. Sebagai anggota Thohir Family, nama Erick Thohir belakangan ini  makin melambung di kancah politik nasional, setelah memimpin tim sukses Joko Widodo - Ma'ruf Amin dalam Pilpres yang baru saja berlalu.

Selaku Ketua Tim Kampanye Nasional, Erick baru saja berhasil turut mengantarkan Presiden Joko Widodo untuk kembali berkuasa dalam periode kedua 2019-2024.

Namun, berulangkali Erick Thohir menyatakan tidak akan bersedia duduk di Kabinet, karena ingin fokus kembali mengurus bisnisnya. Erick pernah mengatakan itu kepada saya, dan juga diperkuat oleh pengakuan sang kakak, Boy Thohir.

Entah kalau nanti benar-benar menjadi penugasan yang tak lagi bisa ditolak. Yang pasti, Erick Thohir sudah banyak meninggalkan aktivitas bisnisnya saat menjadi Ketua TKN.

Erick juga mengambil risiko yang besar, saat ditugaskan menjadi ketua tim pemenangan, karena akan “kehilangan” banyak hal apabila tidak mampu membantu pemenangan Pak Jokowi.

Namun semuanya sudah berlalu. Pak Jokowi sudah dinyatakan memenangkan Pilpres. Pasangan Capres-Cawapres Jokowi dan Ma’ruf Amin tinggal menunggu pelantikan pada Oktober mendatang.

Foto: Erick Thohir (tengah berkemeja merah), bersama sahabatnya Rosan Roslani (kiri-Ketua Umum Kadin Indonesia) dan M Lutfi (kanan-pengusaha dan Mantan Kepala BKPM/Dubes RI di Tokyo) saat berkunjung ke kantor Bisnis Indonesia di tengah kesibukan kampanye Pilpres, Januari 2019

Saya mengamati, hubungan kakak-beradik Thohir Family ini begitu dekat. Mereka saling menopang. Mereka juga berhubungan sangat erat –baik pribadi maupun bisnis— dengan keluarga Teddy Permadi Rachmat, pemilik Triputra Group, yang sebelumnya turut membesarkan Grup Astra.

Saya mengamati saat Pilpres lalu, Boy Thohir begitu menopang aktivitas sang adik, Erick Thohir. Dalam banyak hal. Saya beberapa kali berjumpa dengan Boy, dalam pertemuan dengan Erick Thohir.

Saat saya bertanya soal dukungannya yang all-outkepada Erick Thohir, Boy mengatakan, “Politik saya politik negara. Mana yang terbaik buat negara saya belain.”

Baginya, mau nggakmau pebisnis perlu mendukung politik. "Nggakbisa enggak. Karena yang terbaik untuk negara, mau nggakmau baik buat ekonomi dan dunia usaha,” ujarnya.

Maka, soal yang terbaik untuk negara itu, saya pun bertanya lagi kepada Boy. Sebenarnya apa mimpinya tentang masa depan Indonesia? Sedikit berputar Boy bercerita.

Menurut dia, jatuh bangunnya sebuah keluarga, atau perusahaan, atau negara, karena pemimpinnya gagal. Menurut Boy, Indonesia harus mempertahankan pemimpin-pemimpin yang punya karakter. Dengan begitu, Indonesia akan bisa benar-benar maju.

Boy pun yakin, Pak Jokowi pasti sudah memikirkan pemimpin-pemimpin yang punya karakter kuat, untuk membantunya dalam periode lima tahun ke depan.

Baginya, apa yang dilakukan Presiden Jokowi saat ini, adalah untuk masa depan Indonesia. “He is doing the right things,” tuturnya.

Apa yang akan dilakukan Pak Jokowi, akan terefleksi dari komposisi kabinet mendatang. Kabinet yang memiliki karakter kuat.

“Karakter seperti apa? Ayah saya bilang, orang yang selalu menjaga reputasi dan nama baiknya. Orang yang memang ulet dan pekerja keras. Orang yang memang mau memberi kontribusi terbaik kepada negaranya.”

Selain karakter kuat, Boy mengutip pandangan Teddy Rachmat. Demi masa depan Indonesia, Pak Jokowi seyogianya dibantu oleh orang yang memiliki rekam jejak alias track record jelas, serta mereka yang sudah selesai dengan dirinya.

Semua itu untuk meninggalkan legacy yang kuat, bagi kemajuan Indonesia.  

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Ngobrol Ekonomi

Editor : News Editor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top