Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Author

Arif Budisusilo

Jurnalis Senior Bisnis Indonesia Group

Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia (2009-2016) dan Direktur Pemberitaan (2012-2020). Sejak Juli 2020, ditugaskan sebagai Presiden Direktur Solopos Group dan Harian Jogja. Menulis isu ekonomi makro, manajemen dan inovasi, serta perkembangan industri media. Twitter @absusilo, IG: arif_budisusilo

Lihat artikel saya lainnya

NGOBROL EKONOMI: Memacu Momentum Recovery  

Intinya, momentum pemulihan terlalu sayang untuk dilewatkan. Mudah-mudahan, pandemi segera bergeser menjadi endemi, dan hidup kita relatif normal kembali. Lebih dari itu, ekonomi bergeliat dan berputar lebih kencang lagi.
Warga berjalan di depan videotron mengenai protokol kesehatan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (13/9/2021). Pemerintah memutuskan untuk terus melanjutkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2-4 di Jawa-Bali hingga 20 September 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Warga berjalan di depan videotron mengenai protokol kesehatan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (13/9/2021). Pemerintah memutuskan untuk terus melanjutkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 2-4 di Jawa-Bali hingga 20 September 2021 untuk menekan penyebaran Covid-19. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Tak diragukan lagi, kasus Covid-19 di Indonesia mulai terkendali. Tentu kita semua berharap, tidak akan muncul gelombang berikutnya lagi.

Datanya jelas. Hampir semua angka memberikan gambaran yang meyakinkan. Bukan bermaksud terburu-buru. Tetapi saya sangat percaya dengan tren. Angka yang muncul memberikan gambaran pola siklikal yang, kata orang Jawa, mulai bisa dititeni.

Di akhir Juni lalu, saya bercakap melalui aplikasi pesan dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Intinya soal pola kasus di India yang naik cepat, lalu turun cepat. Saya bilang kala itu, mudah-mudahan pola kasus di Indonesia mirip dengan India.

Saya bilang ke Pak Budi Gunadi waktu itu, "India yang heboh, sekarang (akhir Juni lalu) sudah melandai. "Moga-moga heboh kita ini juga nggak lama... Moga-moga pattern India juga terjadi di sini, Chief," begitu kira-kira saya sampaikan.

Pak Menteri mengamini. Lantas Menteri Budi mengingatkan aspek lain, risiko kematian yang meningkat, perlu dicermati. Karenanya pemerintah concern di sana. Saya sependapat.

Dua bulan setelah itu, tepatnya tanggal 26 Agustus, saya kembali bercakap daring dengan Menkes Budi Gunadi. Kembali soal perbandingan India dan Indonesia.

Saya tunjukkan grafik, sejak muncul kasus baru di Indonesia pada akhir Mei atau awal Juni hingga kasus mulai melandai, durasinya mirip di antara Indonesia dan India. Ternyata siklus Indonesia dua bulan berada di belakang India.

Saya bilang, "Pak Menteri, semoga tren ini berlanjut dan terus menurun dalam beberapa pekan ke depan. Proficiat."

Tampaknya Menteri Budi tidak mau buru-buru, dan tak mau terkesan jumawa. Dia hanya bilang: "Semoga ya."

Kebetulan setelah itu, banyak pihak mengapresiasi Menteri Kesehatan. Namun tak sedikit pula pihak yang terlalu skeptis. Pihak yang skeptis mengusung kecurigaan bahwa penurunan kasus itu karena jumlah tesnya dikurangi. Pelacakan kontak erat dikurangi, dan seterusnya.

Saya justru melihat sebaliknya. Pelacakan berkurang, justru merupakan konsekuensi dari kasus baru yang terus menurun. Alur berikutnya jelas, karena pelacakan berkurang, konsekuensinya testing juga berkurang. Justru aneh dan kurang kerjaan, memaksakan tracing bila basis underlying kasusnya tidak jelas.

Contohnya, di kantor saya, saat ada kasus karyawan yang positif, dilakukan pelacakan terhadap semua kontak erat, dan selanjutnya mereka dites antigen dan PCR. Dari hasil tracing dan testing itu, ditemukan puluhan kasus positif lainnya.  

Tapi setelah mereka sembuh, dan tidak ada kasus baru lagi, maka tidak perlu tracing di kantor kami. Dan karenanya tidak ada testing. Itu contoh simpel saja.

Saya yakin sekuens semacam itu juga terjadi pada perusahaan lain, atau lingkungan tempat tinggal kita. Maka secara agregat nasional, jumlah testing menurun setelah kasus baru menurun.

Di sisi lain, suara ambulan di jalanan juga sudah sangat jarang terdengar. Tidak membuat nratab, istilah di Solo, bagi yang terkejut bercampur takut, terhadap sebuah musibah. Juga, "badai innalilahi" (sebutan saya atas begitu banyaknya berita kematian di grup-grup whatsapp pada Juli lalu) sudah jarang terdengar sebulan terakhir ini.

Jadi melihat dari berbagai sisi, saya yakin tren penurunan kasus positif ini bukan rekayasa statistik. Saya kira, faktanya jumlah kasus baru benar-benar menurun.

Polanya sudah semakin terlihat. Berdasarkan pengamatan sederhana, berkaca dari India, butuh sekitar empat bulan dari munculnya gelombang kasus, kemudian memuncak, dan melandai.

Di Indonesia gelombang pandemi muncul lagi akhir Mei lalu. Mengacu pola India itu, semestinya akan mereda signifikan di akhir September. Puncak kasus harian Indonesia adalah pada 15 Juli, dengan jumlah kasus baru 56.000-an. Jumlah kasus baru pada Kamis (9/9) di posisi 5.990, mirip dengan kondisi akhir Maret hingga akhir Mei, sebelum menanjak awal Juni dengan klaster Kudus. Bahkan pada Senin (13/9), kasus baru hanya sekitar 2.000-an.

Kasus aktif pun terus menurun. Jumlah kasus aktif pekan lalu di kisaran 127.000, dan pada Senin (13/9) sudah di kisaran 126.000-an, sejalan dengan kesembuhan yang semakin meningkat. Konsekuensi positifnya, tingkat keterisian tempat tidur perawatan rumah sakit alias BOR sudah jauh menurun.

NGOBROL EKONOMI: Memacu Momentum Recovery   

Pengunjung memindai kode batang (QR Code) melalui aplikasi PeduliLindungi di Pintu Gerbang Utama Timur, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Selasa (14/9/2021). Taman Impian Jaya Ancol menjadi salah satu dari 20 destinasi wisata yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai lokasi uji coba tahap awal penerapan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk tempat wisata di masa PPKM. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

***

Saya mengungkap sejumlah data di atas untuk menambah keyakinan, sekaligus harapan, agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu. Sejalan dengan jumlah vaksinasi yang terus digenjot, dengan target harian 2,5 juta suntikan, herd immunity lebih lekas terbentuk. Setelah itu, risiko fatalitas juga semakin rendah.

Apalagi kuat dugaan banyak warga OTG atau sakit tanpa gejala dan tidak menjalani testing, dan saat bersamaan juga sudah sembuh. Artinya, selain vaksinasi program rasanya juga terdapat "vaksin alamiah" yang terbentuk dari para OTG, yang memperluas "herd immunity".

Dengan kata lain, ketika banyak pihak berharap pandemi Covid-19 ini segera bergeser menjadi endemi, harapan semacam itu patut diaminkan. Bisa jadi pula pada saatnya nanti, virus corona ini akan mirip influenza biasa.

Menurut Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, endemi dapat digambarkan sebagai sebuah situasi di mana kondisi kasus lebih terkendali, meski virus bukan berarti hilang sepenuhnya.

Dalam pengertian itu, bisa jadi masih terdapat kasus di sebagian daerah tertentu, tetapi tidak banyak menular dan risiko fatalitasnya jauh lebih rendah karena sudah terbentuk herd immunity.

Artinya, bila kondisi itu terjadi, saatnya kita melanjutkan mimpi recovery. Mimpi untuk pemulihan ekonomi. Dengan begitu, pemerintah pun sudah saatnya memperkuat fokus, membangun pola recovery ekonomi yang lebih kuat, paralel dengan pengendalian pandemi yang semakin solid.

Apalagi sektor swasta sudah terus bersiap-siap. Bahkan sudah banyak pihak yang tak sabar untuk kembali bergiat. Memanfaatkan momentum recovery dari dampak pandemi memang harus bergegas. Segegas strategi pengendalian pandemi itu sendiri.

Bisnis pariwisata, transportasi, ritel dan perdagangan, manufaktur bahkan energi, sudah ingin segera mengalami lagi masa-masa tumbuh dengan kuat. Tentu tanpa mengabaikan perilaku baru, disiplin pada protokol kesehatan, kendati wabah semakin terkendali.

Sektor pendidikan, kini mulai berjalan bertahap dengan kondisi normal yang baru, melalui program Pendidikan Tatap Muka alias PTM. Sektor transportasi mulai bergeliat, sejalan dengan peningkatan mobilitas.

Sektor pariwisata juga mulai mengintip peluang untuk beroperasi dengan penerapan protokol baru. Begitu pula sektor ritel yang menerapkan screening dengan aplikasi digital, Pedulilindungi.

Potret yang antusias semacam itu bahkan sempat tertangkap oleh tim Ekspedisi Energi Solopos pada pertengahan Agustus, menjelang perayaan kemerdekaan lalu. Bahkan perusahaan distributor otomotif seperti Nasmoco pun antusias menyambut recovery.

Antusiasme banyak perusahaan energi juga tampak terlihat. Mulai dari Pertamina, PT PLN, Adaro Energy, GeoDipa Energi, PGN dan sejumlah perusahaan di bawah koordinasi SKK Migas, termasuk Exxon Mobil Cepu Limited dan HCML.

Sekadar contoh, Exxon Mobil berkomitmen menopang momentum pertumbuhan di Indonesia, melalui operasinya di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama peningkatan kapasitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dan kesehatan.

Selain memasok kebutuhan energi untuk mendorong pergerakan kembali mesin ekonomi, ExxonMobil akan terus mendukung sektor pendidikan Indonesia, yang dipercayai merupakan tenaga penggerak kemajuan, pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi yang akan memutus rantai kemiskinan.

Antusiasme serupa juga ditunjukkan perusahaan energi milik Boy Thohir, PT Adaro Energy Tbk. Perusahaan yang sedang menuntaskan pembangunan proyek PLTU di Batang itu juga berkomitmen mewujudkan pengembangan masyarakat berkelanjutan.

Dalam tujuan itu, Grup Adaro bahkan fokus pada lima bidang utama, yakni kemandirian ekonomi, peningkatan pendidikan, kesehatan, promosi sosial budaya dan konservasi lingkungan.

Banyak contoh lain lagi, untuk tidak memperpanjang cerita. Intinya, momentum pemulihan terlalu sayang untuk dilewatkan. Mudah-mudahan, pandemi segera bergeser menjadi endemi, dan hidup kita relatif normal kembali. Lebih dari itu, ekonomi bergeliat dan berputar lebih kencang lagi.

Moga-moga saja, cara saya melihat ini tidak keliru. Nah, bagaimana menurut Anda? (*)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arif Budisusilo
Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper