Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mundurnya Penyelesaian Proyek 35.000 MW Dinilai Wajar

Pertumbuhan permintaan listrik hingga 2028 yang diperkirakan di bawah prediksi membuat sejumlah proyek pembangkit perlu diundur penyelesaiannya.
Lucky Leonard
Lucky Leonard - Bisnis.com 03 Juli 2019  |  17:24 WIB
Mundurnya Penyelesaian Proyek 35.000 MW Dinilai Wajar
Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla memimpin rapat kabinet terbatas membahas Program Pembangunan Pembangkit 35.000 MW dan Transmisi, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (25/6). - Antara/Widodo S. Jusuf
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pertumbuhan permintaan listrik hingga 2028 yang diperkirakan di bawah prediksi membuat sejumlah proyek pembangkit perlu diundur penyelesaiannya.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan wajar penyelesaian proyek 35.000 megawatt (MW) mundur. Pasalnya, pertumbuhan permintaan listrik melambat dan tidak sesuai dengan perkiraan pertumbuhan dalam perencanaan awal proyek tersebut, yakni sebesar 7%.

Pihaknya memperkirakan pertumbuhan permintaan listrik PT PLN (Persero) hingga 2028 berada pada kisaran 5,1%-5,3%. Angka tersebut lebih rendah dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN yang masih di atas 6,2%.

"Pemerintah memang perlu kaji ulang karena ada 21 gigawatt [GW] pembangkit yang sedang konstruksi dan diperkirakan sebagian besar akan masuk pada 2021-2023. Apakah memang pada tahun itu ada cukup permintaan listrik untuk menyearap pembangkit yang commisioning?" tuturnya kepada Bisnis, Rabu (3/7/2019).

Dia menilai untuk pembangkit baru setelah 2020, investasinya bisa saja terpengaruh akibat rencana penyelesaian proyek yang terus diundur. Oleh karena itu, perlu dihitung kembali kebutuhan listri per tahun dengan permintaan yang melambat.

Adapun Direktur Pembinaan Program Ketenagalistikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu mengatakan pertumbuhan konsumsi memang listrik tidak setinggi proyeksi awal. Hal tersebut berdampak pada penyelesaian beberapa pembangkit yang harus diundur.

"Ada pergeseran dan sebagian COD [commercial operation date] 35 gigawatt [GW] itu bisa di 2028. Disesuaikan dengan pertumbuhan sistem setempat," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik pembangkit listrik 35.000 mw
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top