Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SCI : Menjamurnya Bisnis Rintisan Logistik Bisa Bikin Cost Turun

Supply Chain Indonesia (SCI) menilai perkembangan e-commerce membuat pendanaan investor terhadap bisnis rintisan atau startup di bidang logistik semakin menjamur.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  16:23 WIB
SCI : Menjamurnya Bisnis Rintisan Logistik Bisa Bikin Cost Turun
Ilustrasi - Kegiatan logistik di pelabuhan. - Bisnis/Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Supply Chain Indonesia (SCI) menilai perkembangan e-commerce membuat pendanaan investor terhadap bisnis rintisan atau startup di bidang logistik semakin menjamur. Persaingan usaha pun tidak dapat dihindarkan dan akan menurunkan biaya logistik.

Berdasarkan data Google & Temasek dalam laporannya berjudul E-conomy SEA 2018 yang menyebutkan bahwa dagang-el menyumbang US$12,2 miliar dari US$27 miliar nilai ekonomi digital Indonesia pada 2018, atau berkontribusi 45% dari total nilai ekonomi digital secara nasional.

Ketua Umum SCI Setijadi menuturkan, seiring perkembangannya e-commerce membutuhkan layanan logistik khusus yang menuntut kecepatan pengiriman pesanan.

"Selain itu, berbeda dengan layanan logistik konvensional yang business to business [B2B], layanan logistik e-commerce bersifat business to customer [B2C] atau customer to customer [C2C]. Pengiriman produk dalam volume kecil dan tersebar," jelasnya saat Bisnis hubungi, Selasa (25/6/2019).

Dia melanjutkan, keberadaan perusahaan startup logistik mendorong kinerja sistem logistik karena memanfaatkan teknologi informasi yang mengefisienkan proses bisnis dan operasionalnya.

"Keberadaannya akan meningkatkan persaingan. Peningkatan persaingan itu akan mendorong penurunan biaya logistik," ungkapnya.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, biaya logistik di Indonesia sekitar 29% dari total PDB di 2018, lebih besar dibandingkan dengan angka 24% pada 2016. Data Bank Dunia di tahun yang sama memperlihatkan, Indonesia ada di posisi ke-63 dari 160 negara untuk indeks performa logistik.

Setijadi menjelaskan perbedaan karakteristik dan tuntutan itu membutuhkan inovasi penyedia logistik e-commerce.

Dengan demikian, tingkat persaingan penyedia logistik e-commerce sangat tinggi karena terdiri dari beberapa kelompok pelaku, yaitu perusahaan logistik konvensional yang masuk ke logistik e-commerce, perusahaan logistik e-commerce yang dibangun oleh perusahaan e-commerce, dan perusahaan start-up logistik e-commerce.

Dalam menghadapi persaingan, dia menuturkan perusahaan logistik e-commerce harus mengembangkan inovasi proses dan inovasi teknologi termasuk teknologi informasi.

"Perusahaan logistik e-commerce harus mengembangkan inovasi proses dan inovasi teknologi. Integrasi sistem informasi diperlukan untuk peningkatan kecepatan order fulfillment," jelasnya.

Penggunaan software atau aplikasi dalam bentuk warehouse management system (WMS) yang terintegrasi dengan transportation management system (TMS) akan semakin diperlukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik supply chain
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top