Arti Premier League Bagi TVRI

Di bawah komando Helmy Yahya yang didapuk sebagai Direktur Utama, TVRI menjalankan berbagai gebrakan untuk mengubah citra.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 26 Juni 2019  |  15:04 WIB
Arti Premier League Bagi TVRI
Manchester City juara Liga Primer Inggris musim 2018 - 2019. - Reuters/Toby Melville

Bisnis.com, JAKARTA — Di bawah komando Helmy Yahya yang didapuk sebagai Direktur Utama, TVRI menjalankan berbagai gebrakan untuk mengubah citra. Salah satunya yakni membuat TVRI menjadi lebih kekinian dan modern dengan meluncurkan logo baru atau rebranding.

Gebrakan lain yang dilakukan agar TVRI kembali menjadi stasiun televisi favorit di Tanah Air adalah dengan menyabet hak siar Premier League di Indonesia guna menayangkan kompetisi liga sepak bola elite dari Inggris itu selama 3 musim pertandingan pada 2019—2020 yang dimulai 10 Agustus tahun ini.

TVRI akan menyiarkan dua pertandingan Premier League secara free to air, analog, serta digital setiap Sabtu dan Minggu. Dengan begitu, selama satu musim, TVRI akan menyiarkan 76 pertandingan.

Sebelumnya, pada Januari, TVRI mendapatkan hak siar Copa Italia mulai Januari 2019 hingga 2021. Selama ini, Copa Italia hanya disiarkan di kanal siaran berlangganan dan kini liga tersebut bisa disaksikan secara gratis di layar kaca.

Memang, pertandingan kedua liga elite yang telah diraih hak siarnya oleh TVRI itu digadang-gadang mampu menggaet minat para pecinta sepak bola di Tanah Air untuk menonton tim kesayangan mereka. Terlebih, berdasarkan riset Nielsen Sports pada 2017, sebesar 77% masyarakat Indonesia menggemari sepak bola.

Bagi Direktur Utama TVRI Helmy Yahya, merupakan sebuah kepercayaan kepada TVRI untuk mendapatkan hak penyiaran liga Inggris.

“Ini menjadi sebuah kepercayaan bagi kami, memperoleh hak siar dari Mola TV. Hal ini dikarenakan luasnya jangkauan TVRI, yang tak dimiliki oleh stasiun manapun. Selain itu, [karena] track record kami yang kerap menayangkan pertandingan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (24/6).

Saat ini, TVRI telah menandatangani kontrak untuk dapat menyiarkan Premier League. Namun, terkait dengan besaran nilai kontrak itu, Helmy enggan membeberkan.

“Kami sudah MoU dan kontrak resmi selama 2 waktu. Kerja sama dengan Mola TV bagian dari layanan ke publik. Ini bukan soal uang. Basisnya kepercayaan dan olahraga sudah jadi kebutuhan publik. Terkait dengan pendanaannya seperti apa, ini ada aturannya,” ucapnya.

Helmy meyakini strategi mengantongi hak siar Premier League akan mengerek rating TVRI, berikut jumlah penonton dan pendapatan dari BUMN yang ditanganinya itu.

Kendati demikian, Helmy enggan membeberkan lebih detail seberapa potensi besar pendapatan yang diperoleh TVRI melalui siaran liga Inggris ini.

“Kami bukan lembaga profit tetapi sebagai [perusahaan] penyiaran publik, dengan adanya monster program yakni liga Inggris ini, tentu akan naik penonton TVRI karena program yang banyak ditonton masyarakat adalah sepak bola dan bulu tangkis. Sejak saya memegang TVRI, penontonnya naik dua kali lipat,” terang Helmy.

Untuk tahun ini, anggaran yang diberikan kepada TVRI mencapai Rp1,1 triliun. Jumlah tersebut, kata dia, akan ditambah lagi sebesar Rp224 miliar pada tahun depan sehingga totalnya mencapai sekitar Rp1,3 triliun.

Chief Operations Officer Mola TV Fery Wiraatmadja menuturkan TVRI adalah stasiun nasional yang paling unggul dalam hal luasan jangkuan penyiaran di dalam negeri. “TVRI terlihat siap menayangkan liga Inggris dan sedang membangun era baru. Ini juga kali pertama TVRI mendapatkan hak siar kompetisi Piala Liga Inggris [Carabao Cup] dan Divisi Championship atau kasta kedua Liga Utama Inggris tahun lalu,” katanya.

STRATEGI DIVERSIfIKASI

Sementara itu, Managing Director Lembaga Management FEB Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, berdasarkan PP No.13/2005 tentang Lembaga Penyiaran Publik Republik Indonesia, TVRI adalah lembaga penyiaran publik yang bersifat netral, independen, dan tidak komersial.

TVRI bertanggung jawab langsung pada presiden. “Sejak ada PP itu, TVRI bukan lagi BUMN,” ujarnya.

TVRI, lanjutnya, menyadari bahwa ratingnya tertinggal dibandingkan dengan TV komersial lainnya sehingga memang dibutuhkan strategi diversifikasi bisnis untuk menggaet minat penonton. Salah satunya adalah dengan menayangkan Premier League sebagai tontonan yang banyak diminati masyarakat.

“Tahun lalu mereka sebenarnya sudah start dengan menyiarkan Liga Championship [Divisi 2 Liga Inggris].”

Apabila masyarakat sudah tune-in lagi dengan TVRI karena menonton Liga Premier, sebutnya, selanjutnya tinggal bagaimana TVRI bisa mengapitalisasi penontonnya untuk dikenalkan pada program TVRI lain yang dianggap prospektif ke depannya.

Memang, saat ini kinerja TVRI masih terbilang belum begitu baik. Terlebih, TVRI sebagai lembaga penyiaran pubik (LPP) hidup dengan dibiayai sepenuhnya oleh APBN sehingga untuk memperoleh sumber dana non-APBN juga sulit.

Untuk itu, Toto mengusulkan agar dilakukan perubahan regulasi tentang bentuk kelembagaan TVRI dari LPP menjadi badan layanan umum (BLU). Tujuannya adalah agar pendanaan TVRI tak hanya bisa bersumber dari APBN.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan berpendapat TVRI patut diapresiasi karena memperoleh hak siar Premier League.

“Ada improvement untuk meningkatkan fungsi mereka, terlebih acaranya enggak bayar, pemerintah bisa mendapatkan gratis dengan hak ini.”

Memang, sambungnya, perolehan hak siar ini dapat membuat kinerja TVRI menghijau kembali setelah sempat pada 2017 merugi. Namun, TVRI harus juga mengimbanginya dengan strategi monetisasi dan komersialisasi dari hak siar yang didapatkannya.

“Ini tantangan ke depan agar buku mereka juga hijau dengan bisnis yang didapatnya,” terangnya.

Lebih lanjut, dia menilai terbatasnya sumber pendanaan TVRI juga menjadi kendala bagi instansi tersebut untuk lebih ekspansif. “Untuk pembayaran hak siar ini saya belum tahu seperti apa. Liga Inggris ini proyek besar dan termahal dari liga lainnya. Neraca kesehatan TVRI enggak bagus, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk skema pembiayaannya,” tutur Alfred.

Ditambah lagi, TVRI juga tak bisa memperoleh pendanaan dari sisi perbankan karena kinerja perusahaan yang tak begitu bagus. Untuk subsidi dari pemerintah juga, TVRI membutuhkan waktu untuk memperolehnya.

Pada akhirnya, TVRI dihadapkan pada dua tantangan. Di satu sisi, mereka didesak untuk berkembang dan di sisi lain mereka berada di tengah keterbatasan anggaran. Untuk itu, dibutuhkan strategi yang jitu agar TVRI bisa bersaing dan berada di hati publik di tengah gempuran inovasi dari perusahaan TV swasta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tvri

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top