Wacana Angkutan Massal O-Bahn Membingungkan Masyarakat

Wacana Kementerian Perhubungan soal mengimplementasikan O-Bahn atau jalur bus terarah (guided busway) disebut membingungkan masyarakat.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 24 Juni 2019  |  19:45 WIB
Wacana Angkutan Massal O-Bahn Membingungkan Masyarakat
Ilustrasi - Angkutan massal O-Bahn, atau jalur bus terarah (guided busway). - Binsis/setkab.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Wacana Kementerian Perhubungan soal mengimplementasikan O-Bahn atau jalur bus terarah (guided busway) disebut membingungkan masyarakat karena jenis transportasi ini sama saja dengan bus rapid transit (BRT) yang sudah ada di Indonesia.

Country Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Yoga Adiwinarto menuturkan, O-Bahn hanyalah salah satu bagian dari sistem layanan BRT yang melayani Adelaide, Australia Selatan.

"O-Bahn itu sendiri secara harfiah artinya dari Omnibus atau bus dan bahn yang artinya way atau jalan, jadi ya artinya busway kalau digabung," terangnya kepada Bisnis, Senin (24/6/2019).

Dengan demikian, teknologi ini sebenarnya bukan bus yang bisa lewat rel, tapi busway dibuatkan track atau rel khusus memanfaatkan jalur yang tadinya direncanakan untuk trem.

Pergeseran ini, terangnya, karena menggunakan teknologi trem menjadi terlalu mahal, sehingga akhirnya diganti menggunakan bus.

"Menurut saya, Kemenhub tidak usah membingungkan masyarakat dengan istilah-istilah baru. O-Bahn termasuk kategori BRT, bedanya hanya jalanannya dibuat guided dan juga track dibuat khusus supaya mencegah kendaraan pribadi masuk," tuturnya.

Secara historis, paparnya, rel yang digunakan memang menggunakan rel kereta lama. Sementara itu, di Indonesia, sangat jarang ada rel kereta lama di perkotaan. Dengan demikian, dia menilai percuma membangun guided busway seperti ini.

"Karena berarti perlu ada pembebasan lahan lagi, dan lintasannya pun juga harus membuka trayek baru yang jauh dari mana-mana," ujarnya.

Terkait dengan kemungkinan menggunakan rel kereta lama di daerah Jawa Barat, Yoga menilai bisa saja rel tersebut dibuat menjadi bagian dari BRT ini. Namun, dia tidak begitu yakin, kebutuhan masyarakatnya dapat memenuhi atau tidak.

Dia menjelaskan, saat ini yang diperlukan itu pembenahan sistem bus, sementara O-bahn atau guided busway hanya infrastrukturnya. "Contoh koridor 13 Transjakarta yang elevated, tidak akan ada dampaknya jika jaringan Transjakartanya tidak eksis," tambahnya.

Dia menyarankan, langkah pertama yang dapat Kemenhub lakukan adalah membenahi sistem bus perkotaan di Indonesia, yaitu diperlukan, dan daerah mana yang harus dilengkapi infrastruktur penunjang seperti lajur khusus bus lane, BRT lane maupun guided bus lane.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kemenhub, transjakarta, brt, o-bahn busway

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top