Inflasi Bahan Pangan Tembus Level Tertinggi Sejak 2015

Inflasi bahan pangan bergejolak pada Mei 2019 tembus level tertinggi sejak 2015. 
Hadijah Alaydrus | 10 Juni 2019 18:25 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (kiri) memberikan paparan dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Inflasi bahan pangan bergejolak pada Mei 2019 tembus level tertinggi sejak 2015. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bahan pangan bergejolak sepanjang Ramadan 2019 yang jatuh pada Mei 2019 mencapai 2,18% (month to month/mtm) atau tertinggi sejak Ramadan pada Juli 2015 yang inflasinya mencapai 2,13%.

Dari laporan BPS, kelompok bahan pangan -seperti komoditas cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,10%, daging ayam ras 0,05%, bawang putih 0,05%, ikan segar 0,04% dan komoditas sayur-sayuran sebesar 0,01%- menjadi pemicu utama inflasi Mei 2019 yang mencapai 0,68%.
 
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Yunita Rusanti mengungkapkan inflasi di bahan pangan secara umum sebenarnya masih terkendali. "Mudah-mudahan di bulan Juni ini semuanya kembali normal," kata Yunita, Senin (10/09/2019).

Lonjakan inflasi pada bahan pangan disebabkan oleh kenaikan permintaan akibat faktor musiman, yakni Ramadan dan Lebaran. Yunita menegaskan faktor momen Ramadan yang berlangsung pada satu bulan penuh turut berpengaruh.

Biasanya, rentang waktu Ramadan terbagi di antara dua bulan sehingga kenaikan laju inflasinya tidak menumpuk pada satu bulan. "Ini puasanya awal Mei, sedangkan Lebaran di awal Juni."

Selain itu, kenaikan terjadi merata di beberapa komoditas pangan yang biasanya tidak mengalami inflasi seperti sayur-sayuran, kelapa dan pepaya yang masing-masing menyumbang andil inflasi sebesar 0,01%.

Senada dengan BPS, Kepala Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro melihat kondisi ini sebagai faktor musiman tekanan harga bahan pangan pada Ramadan cenderung tinggi.

Pada Ramadan kali ini, jumlah harinya mencapai 26 hari pada Mei 2019. Tahun lalu, jumlah hari Ramadan pada bulan Mei hanya 16 hari dan sisanya 14 hari berlangsung pada bulan Juni. "Artinya tekanan inflasi bulan Ramadan ini menumpuk di Mei," kata Satria. 

Kendati inflasi melonjak, Bahana mencatat aset keuangan di dalam negeri mengalami kenaikan tipis. Rupiah menguat 0,2% ke level Rp14.244 per dolar AS dan imbal hasil surat utang Indonesia tenor 10 tahun turun 22 basis poin menjadi 7,74%.

Di sisi lain, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk. Andry Asmoro menuturkan laju inflasi inti pada bulan Mei 2019 yang mencapai 3,12% mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat. "Ini level tertinggi sejak Juni 2017, mengindikasikan daya beli tetap kuat," tegas Andry.

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan hal serupa. Menurutnya, laju inflasi inti di atas 3% mengindikasikan daya beli masyarakat yang cukup bagus  Dia berharap daya beli masyarakat yang baik ini dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua tahun ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Inflasi, Ramadan

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top