Bank Sentral China Siap Redam Dampak Perang Dagang

People's Bank of China (PBOC), bank sentral China, menilai masih ada ruang yang luas untuk menyesuaikan kebijakan moneter bila perang dagang kian dalam.
Oktaviano DB Hana | 07 Juni 2019 20:02 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) bersama Presiden China Xi Jinping dalam sebuah pertemuan di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Reuters/Damir Sagolj

Bisnis.com, JAKARTA — People's Bank of China (PBOC), bank sentral China, menilai masih ada ruang yang luas untuk menyesuaikan kebijakan moneter bila perang dagang kian dalam.

Pernyataan itu diungkapkan Gubernur PBOC Yi Gang dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg, sebagaimana diberitakan Jumat (7/6/2019). Penegasan itu pun mengindikasikan kesiapan China, seperti halnya negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat, yang menunjukkan kesiagaan dalam bertindak dan menjaga kondisi ekonominya.

“Kami memiliki banyak ruang untuk suku bunga, kami memiliki banyak ruang terkait tingkat rasio cadangan yang diperlukan, dan juga untuk fiskal, perangkat kebijakan moneter, saya pikir ruang untuk penyesuaiannya luar biasa,” kata Yi.

Seperti diketahui, bank sentral di China dan sejumlah negara lain juga menunjukkan kesediaan untuk mengurangi dampak ekonomi dari perang tarif. The Federal Reserve dan European Central bank pada minggu ini juga mengindikasikan keterbukaan pada pelonggaran kebijakan moneter. Sementara itu, pemangku kebijakan di Australia dan India menurunkan suku bunganya.

Di samping itu, Yi Gang juga mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin mempertahankan mata uang negara pada tingkat tertentu. Dia pun menekankan bahwa nilai yuan harus ditentukan oleh kekuatan pasar.

Yi mengatakan mata uang Negeri Tirai Bambu itu baru-baru ini melemah lantaran tekanan yang luar biasa dari Amerika Serikat. Kendati begitu, dampaknya diyakini hanya sementara.

“Sedikit fleksibilitas renminbi baik untuk ekonomi China dan ekonomi global karena menyediakan penstabil otomatis untuk ekonomi. Bank sentral China tidak banyak melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk waktu yang lama, dan saya berharap bahwa situasi ini akan berlanjut, tidak campur tangan,” kata Yi.

Adapun, Yi dan perwakilan Amerika Serikat, termasuk Menteri Keuangan Steven Mnuchin, dijadwalkan bertemu di Fukuoka, Jepang, dalam pertemuan Group of 20 atau G-20 pada akhir pekan ini. Pertemuan itu dinilai bakal menjadi pembicaraan produktif, meskipun topik perang dagang diyakini masih tidak pasti dan sulit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
people's bank of china, perang dagang AS vs China

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top