Tingkat Keekonomian Jadi Kunci Keberhasilan Optimalisasi Lahan Rawa

Optimalisasi lahan rawa untuk budi daya tanaman pangan perlu mempertimbangkan aspek keekonomian dan lingkungan sehingga tidak merusak tata kelola air di wilayah tersebut.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  10:06 WIB
Tingkat Keekonomian Jadi Kunci Keberhasilan Optimalisasi Lahan Rawa
Lahan rawa. - dephut.go.id

Bisnis.com, JAKARTA — Optimalisasi lahan rawa untuk budi daya tanaman pangan perlu mempertimbangkan aspek keekonomian dan lingkungan sehingga tidak merusak tata kelola air di wilayah tersebut.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso menilai bahwa pemerintah perlu belajar dari masa lalu terkait dengan program pemanfaatan lahan rawa untuk pertanian tanaman pangan.

“Pemerintah perlu belajar dari masa lalu, optimalisasi lahan rawa ini sebenarnya program lama ya, misalnya pemerintah pernah membuat program dari lahan gambut sejuta hektare. Hasilnya apa? Hasilnya 0 hektare, bahkan kerusakan di hutan masih terjadi,” katanya kepada Bisnis, Senin (27/5).

Dia merujuk pada Program Lahan Gambut (PLG) pada era Presiden Soeharto yang sempat dimulai pada 1996 dan berakhir dengan kegagalan.

Pemanfaatan lahan rawa guna menjawab permasalahan terbatasnya lahan pertanian di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi pangan nyatanya masih menjadi opsi. Lewat program ‘Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani’ alias Serasi, Kementerian Pertanian di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan, pada tahun ini terdapat 500.000 hektare lahan rawa yang digarap untuk penanaman padi.

Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian sejauh ini 500.000 hektare lahan rawa tersebut diproyeksikan tersebar masing-masing 250.000 hektare di Sumatra Selatan, 200.000 ha di Kalimantan Selatan, dan 50.000 ha di Sulawesi Selatan. Jika merujuk pada ketersediaan calon lahan dan petani sampai saat ini, target tersebut baru terpenuhi sekitar 76%.

“Kalimantan Selatan hanya bisa 150.000 hektare berdasarkan calon petani dan calon lahan yang ada. Lalu Sumatra Selatan kurang lebih 200.000 hektare dan Sulawesi Selatan 33.000 hektare,” ungkap Direktur Jenderal PSP Sarwo Edhy, Senin (27/5).

Dengan 117.000 ha target lahan rawa yang masih ada, program ini akan diperluas ke Lampung, Riau, dan Kalimantan Tengah.

Sampai Mei ini, realisasi optimalisasi lahan rawa baru mencakup sekitar 33.000 hektare lantaran program Serasi sendiri baru efektif pada Maret lalu.

Sarwo Edhy mengungkapkan optimalisasi lahan rawa bisa memberikan dampak yang signifikan bagi produksi pangan nasional. Jika padi pada umumnya memiliki produktivitas rata-rata 2 ton tiap hektare-nya, Sarwo mengatakan penggunaan bibit yang serta pengolahan yang tepat di lahan rawa bisa menghasilkan sampai 6 ton per hektare.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertanian, lahan rawa

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top